Showing posts with label hindu. Show all posts
Showing posts with label hindu. Show all posts

PERBEDAAN SANGGAH DENGAN MERAJAN

Di facebook, sebuah status ramai disebarkan orang - orang. Status itu tentang perbedaan sanggah dan merajan. Si pembuat status mengatakan bahwa sanggah dan merajan itu berbeda. Sanggah adalah bagian dari merajan. Sedangkan Merajan adalah gabungan dari berbagai sanggah.

Dari tulisannya saya menangkap ide tulisannya berasal dari keresahan penulis tentang penyebutan yang berbeda tiap orang tentang tempat persembahyangan orang Hindu Nusantara. Khususnya yang mengatakan merajan adalah sanggah untuk orang berkasta.

MITOS WAKTU BERJALAN LEBIH CEPAT KETIKA GALUNGAN

Dua hari setelah Galungan. Kalau temen - temen muslim ketika Lebaran bilang, "H+1 Lebaran, udah bosen sama yang santen - santen", saya juga mau bilang kalau udah bosen banget sama yang babi - babi. :))

Bahkan h-2 saja saya sudah bosen sama babi. Ibu saya banyak banget dapet daging babi dari seminggu sebelum Galungan. Entah itu beli, ataupun dikasi minta orang. Makanan itu menarik kalau dimakan gak sering - sering. Ketemunya setahun sekali bila perlu. Kalau terlalu sering, udah gak bikin penasaran. Malah ngebosenin.

H+2 Galungan. Ada satu mitos tentang Galungan yang mulai saya rasakan. Mitos yang secara sains bisa dijelasin. Saya pernah baca penjelasannya, tapi udah gak begitu jelas mengingatnya. Mitos kalau mendekati Galungan, waktu akan terasa cepat berjalan. Matahari masih terik, ternyata sudah jam 6 sore. Lalu transisi matahari dari jam 6 sampai jam setengah 7 terasa makin cepat. Dari terang dan gelap cepat sekali terjadi.

YANG TERLAKSANA DI GALUNGAN TAHUN INI

Tulisan saya kemarin yang cerita cerita kalau saya selalu ngerasa kerepotan tiap Galungan, memang kesannya gak mensyukuri hari raya agama saya sendiri. Tapi semua itu hanya perasaan sebelum hari puncaknya (tiap Rabu) terjadi. Kalau hari rabunya sudah datang, semua akan terlewati juga. Sesuai, atau enggak sesuai dengan ekspektasi, Galungan terlewati juga.

Mungkin tidak seperti kawan - kawan lain yang merayakan hari raya besarnya seperti momen sekali ssetahun yang sangat ditunggu - tunggu. Galungan sangat menguras energi saya karena banyak kegiatan diluar kebiasaan dan zona nyaman saya. Karena sekali lagi saya tegaskan, saya orangnya lemah, pemalas, sekaligus introvert. Makin lengkap sudah.

Walaupun begitu, saya tetap menjalani Galungan tanpa perasaan terpaksa kok, apalagi harus merusak hari orang lain. Semua pekerjaan, semua tugas, saya selesaikan. Semua berkat kerjasama orang rumah yang membantu saya. Kami saling membantu.

GALUNGAN SELALU MEREPOTKAN

Galungan (hari raya Hindu nusantara) selalu terasa merepotkan. Suasana kantor sudah mulai sepi. Ada yang udah ambil cuti, ada juga yang ijin. Bahkan kantin pun tutup karena pulang kampung lebih awal. Hal ini bikin apa - apa serba susah. Mau kerja yang isi kordinasi dengan staf lain jadi gak bisa kalau orangnya gak ngantor. Mau makan pun musti keluar. Atmosfirnya sudah bukan atmosfir bekerja lagi. Bahkan yang tetep kerja masih ada yang memutuskan ijin pulang cepet. Makin surem~

Sedangkan di rumah, acara nge-galung yang saya skip adalah nampah (memotong hewan) ataupun mepatung (kongsi bayar hewan potong untuk mendapat dagingnya). Walau tidak melakukan beberapa kegiatan yang identik dengan Galungan, tetap saja rasanya banyak banget yang musti dikerjain.

Memenjor dan sembahyang keliling adalah PR terbesar saya. Tantangannya kali ini tentu saja kehadiran anak - anak yang sudah besar - besar. Mereka cenderung tidak mengganggu. Tapi fokus dan tenaga akan terbagi. Saya tidak ingin anak - anak terabaikan, dan pekerjaan - pekerjaan wajib tetap bisa ditunaikan.

DIMINTA MASUK ADAT BALI


Berkali - kali saya disuruh masuk adat. Alasannya: karena saya sudah punya tanah di daerah sini.

Sebenarnya ini tidak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Bagi yang punya tanah dan ditinggali, harus masuk warga adat. Masalahnya, dari bapak saya, hingga saya punya dua anak seperti sekarang, saya belum pernah terlibat dalam aktivitas adat.

Banyak ketakutam dalam diri saya untuk memulai pertama kali. Saya bukan tipe yang cepat membaur ke lingkungan baru. Belum lagi, dari saya kecil sulit masuk ke karakter masyarakat disini. Saya takut dibully, atau dikucilkan, atau mungkin dimanfaatkan. Menjadi korban.

END (Trip ke Lumajang part 4)


Skedul selanjutnya sekembalinya kami dari Alas Purwo adalah mandi. Sambil nunggu antrian, saya mengisi batre hape. Saya mempersiapkannya sangat matang hingga bawa colokan triple socket dari rumah, biar ga rebutan terminal.

Kami mandi di kamar mandi yang tersedia di Pura Blambangan. Kamar mandinya cukup banyak. Bahkan ada kamar mandi khusus untuk pendeta. Dan yang paling penting: kamar mandinya GRATIS!

Kamar mandinya memang sempit. Tapi sangat bersih. Untuk sekelas kamar mandi umum, hal ini sangat spesial. Rasanya kalo saya ngekos deket pura Blambangan, saya akan tiap hari mandi kesitu. Sekalian biar hemat biaya air.

Usai mandi, kami makan bareng. Menu yang sama: nasi kotak. Kayaknya lauknya pun juga sama dengan yang kami dapatkan saat baru berlabuh di Ketapang.

Pura Alas Purwo (Trip ke Lumajang part 3)


Salah satu hal yang membuat trip kali ini menyenangkan adalah cuacanya yang pas. Cuaca yang pas versi saya adalah yang mendung - mendung tapi gak tampak akan hujan. Jadinya teduh, tapi sinar matahari masih cukup enak untuk dinikmati.

Bagi yang sudah ngikutin tulisan saya sejak lama, pasti sudah tau alasan saya menyukai seperti ini. Karena cuaca seperti ini bikin setiap momennya jadi gampang teringat dan enak buat dikenang. Suasanya mirip seperti dalam mimpi - mimpi. Coba deh diinget - diinget, di mimpi biasanya cuacanya teduh kan? Jarang, bahkan tidak pernah cuacanya terik menyengat.

*

Selesai sembahyang di pura Blambangan, rombongan beranjak ke pura Alas Purwo. Travelnya bilang jalan kesana tidak bisa dilalui oleh bis, sehingga rombongan dibagi mejadi beberapa kelompok dan diangkut ke Alas Purwo memakai mikrobus (lebih tepatnya angkot yang disewakan :D). Tidak seperti bus yang kami tumpangi sebelumnya, di angkot ini kami musti desak-desakan dan berpanas-panasan. Bahkan angkot yang saya tumpangi tuas kaca jendela depannya, tempat saya duduk, sudah terlepas. Jadi kalo mau menaikkan atau menurunkan kaca, tuasnya musti saya pasang ke tempat yang semestinya, baru saya puter.

Pura Blambangan (Trip ke Lumajang part 2)


Ini pertama kali saya sembahyang ke pura di Jawa. Pertama pula saya jalan - jalan hanya bersama bapak, tanpa adik dan ibu.

Kita lanjutin cerita yang kemarin ya.

Gelombang selat Bali kala itu cukup enak dipakai menyeberang. Setibanya rombongan di pelabuhan Ketapang, kami langsung diajak makan nasi kotak yang sudah dipesankan oleh pihak travel. Semua sudah diatur dan disiapkan.


Saya tidak habis memakannya. Begitu juga di acara makan - makan selanjutnya. Selain karena lagi enggak selera, saya menahan diri makan terlalu banyak kalau sedang dalam perjalanan seperti ini. Takut mules di jalan!

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Pura Blambangan. Karena tertidur di jalan, rasanya cepat sekali sampai. Selama tirta yatra saya memang lebih banyak menghabiskan waktu tidur selama perjalanan di dalam bis. Sejak berangkat dari Denpasar, sampai pelabuhan Gilimanuk, pas sudah di Jawa, hingga balik lagi, saya lebih banyak tidur. :D

UMAT HINDU BALI ULANG TAHUN 2X SETAHUN


Hai!

Saya baru saja upload video terbaru.

Ga terlalu banyak hal yang mau saya katakan tentang video saya kali ini. Yang pasti, saya akan terus berjuang membuat video yang lebih berkualitas lagi. Akan terus belajar menjadi videomaker/ youtuber yang lebih baik lagi. Mohon dukungannya. :)

Sekilas tentang video ini, bagi kalian yang pengen melihat bagaimana prosesi upacara perayaan hari kelahiran umat Hindu di Bali, kalian cocok untuk menonton video ini. Dalam video ini juga kalian akan tahu kenapa umat Hindu di Bali merayakan hari kelahiran 2x dalam setahun.

Jika kalian suka, silakan  like dan share video ini. Karena apapun dukungan kalian sangat berarti bagi saya, dan nafas saya dalam berkarya. Bahkan kalo kalian ternyata gak suka, kalian bisa ngasi kritik, saran, dan dislike video ini! Bebaaas

Sebagai penutup, maaf kalo ada yang kurang berkenan dengan video ini. Saya sama sekali tak bermaksud menyakiti kalian. Saya selalu berharap kalian menikmati video - video saya. :)

Selamat menonton!

Yang Katanya Gerhana Matahari Total Pas Nyepi


Saya terpaksa melanggar salah satu pantangan di hari Nyepi yaitu Tidak Menghibur Diri. Pantangan itu saya lakukan karena saya menonton Gerhana Matahari Total.

Jika dikasi umur panjang, tahun depan saya bisa ketemu sama Nyepi. Ya kita optimis aja dulu, kan. Kalo Gerhana Matahari Total, terjadi setiap 33 tahun sekali yang bisa dilihat di Indonesia. Karean itu saya rela - relain bolong ibadah Nyepi-nya demi GMT.

Dari info - info yang saya denger, GMT gak bole dilihat dengan mata kaki, soalnya mata kaki ga bisa melihat. GMT juga ga bole dilihat dengan mata telanjang karena sinarnya bisa merusak mata. Karena ini event 33 tahun sekali, saya sudah mempersiapkan menonton fenomena alam langka ini dengan sebaik - baiknya, biar resikonya bisa diminimalisir, dan nontonnya jadi maksimal.

Meski ga punya kacamata khusus nonton gerhana, tapi saya sudah menyiapkan alternatif lain yang pasti gak bakal merusak mata saya saat nonton GMT.

Yang Katanya Orang Jepang Buang Sampah Sembarangan di Tirta Empul


Sempet ketipu oleh petugas camat sebelumnya yang ngurus surat -  surat tanah saya, petugas yang sekarang kerjanya lebih cepet. Kami manggilnya bli Komang. Orangnya masih muda, tapi udah nikah, dan keterbatasan pada kakinya gak bikin dia kerjanya gak maksimal. Dia mau jemput bola ke rumah pemilik tanah sebelumnya, nyari tanda tangan istri mantan yang tanahnya saya beli, untuk dijadikan sebagai saksi dalam surat balik nama.

Saya kasian sama temennya yang lagi satu. Saya, bapak saya, dan yang punya tanah diminta menunggu di kantor Camat sampai pak Camat selesai rapat di ruangannya. Ketika semua tamu pak Camat udah pulang semua, saya cari staf pak Camat, temennya bli Komang ini, mau ngasi tahu kalo pak Camatnya udah kelar rapatnya.

Saya naik ke lantai dua, ke ruangan tempat staf ini berada. Bapak saya dan yang punya tanah juga ikutan. Udah saya bilangin tunggu di bawah tapi mereka gak mau. Padahal neken suratnya kan di hadapan pak Camat di ruangannya di lantai satu. -___-

Yang Katanya Pengalaman Spiritual di hari Siwalatri 2016


Meski saya gak jagra (begadang) ataupun puasa pas Siwalatri tahun ini, tapi gak berarti saya gak ibadah sama sekali. Boncenk ngajakin sembahyang ke ashram bersama umat lainnya.

Kami janjian berangkat jam 2 siang ketemu di rumah Boncenk. Agak berat sebenernya ke ashram hari itu soalnya dari pagi udah mutusin gak melaksanakan hari Siwalatri. Niat untuk sembahyang di hari itu udah ilang. Tapi karena udah janji, dan emang udah lama banget gak ke ashram, saya putusin tetep berangkat.

Yang namanya gak terlalu niat, ujung-ujungnya jam setengah 2 belum juga mandi. Tapi udah ngabarin ke Boncenk kalo saya udah otw. Otw ke kamar mandi maksudnya.

Boncenk tiba - tiba nelp.

Saya: "Hello.."
Boncenk: "It's me.."
Saya: "I was wondering if after all these years you'd like to meet."

Lalu kita nyanyi bareng lagu Hello dari Adelle.

Yang Katanya Siwaratri 2016


Bali libur lagi. Angka delapan di bulan Januari pada kalender Bali terlingkar merah, artinya kami semua yang tinggal di Bali diliburkan karena merayakan hari raya Hindu.

Pada tanggal itu umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Siwaratri. Perayaan yang ditujukan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.

Ada tiga cara merayakan Siwaratri. Yang paling sederhana: tidak tidur selama 36 jam, madia/menengah: tidak tidur selama 36 jam dan tidak makan 24 jam, dan yang paling tinggi tingkatannya ditambah tidak bicara selama 24 jam. Tapi gak sedikit juga yang bolos dalam perayaan ini. Termasuk saya.

Segala macam pantangan itu dimulai dari jam 6 pagi. Dari jam setengah 6 saya sudah bangun, lalu galau mau ngerayain Siwaratri apa enggak. Saya cari tahu lagi tata cara pelaksanaan Siwaratri yang bener. Ternyata ngelaksanain Siwaratri gak bole sembarangan. Musti ada sembahyang dan sarana prasarana yang disiapkan. Saya sudah terlalu mepet untuk menyiapkannya, gak ada waktu lagi.

Sebenarnya bisa saja Siwaratri dilaksanakan tanpa sarana sesajen atau apapun. Yang penting niat yang tulus, ikhlas, dan sungguh-sungguh. Toh, apapun cara yang kita tempuh, akan sampai kepada-Nya.

Yang Katanya Odalan Pura Besakih 2015


Setiap perayaan besar di pura Besakih, selalu diikuti dengan perayaan di pura Batur. Setelah sembahyang kepura pedharman bersama ibu tempo hari, saya diajak temen - temen sembahyang ke kedua pura itu.

Pura Batur terletak di desa Kalanganyar, Kintamani, Bangli. Dekat dengan danau Batur. Kami tiba disana sudah cukup malam. Hujan baru saja berhenti. Cuaca masih lembab. Tanah, bangunan, dan tanaman masih basah bekas air hujan. Suhu ketika itu membuat temen - temen cewek menggigil. Saya yang berniat baik ngasi jaket malah  kena gampar. Padahal saya cuma mau ngasi jaket dan bonus pelukat hangat. Saya mah gitu orangnya.

Mentok. Mobil - mobil gak gerak sepanjang jalan. Kendaraan mengular menunggu giliran bisa jalan menuju pura. Kalo kayak gini ceritanya sampe lebaran kuda makan besi juga ga bakal jalan. Lelah nunggu di dalem mobil tapi mobil gak jalan - jalan, kami putuskan untuk jalan kaki menuju pura. Di kejauhan kami lihat laser menembak awan. Kami duga itu pasti berasal dari lokasi puranya. Dilihat dari sumber lasernya sih, tinggal satu belokan lagi sampe.

Kami jalan kaki bersama - sama rombongan lain yang juga memutuskan hal yang sama. Jalannya menanjak. Yang cewe - cewe tampak mulai kelelahan. Wajar, karena mereka juga harus membawa dua gunung dan satu gua bersamanya. Sekali lagi saya tawarin bantuan, kena gampar lagi. Padahal kan saya mau ngebantu gendong mereka biar gak capek. Tapi gendongnya dari depan. :3

Yang Katanya Odalan Pulasari


Selain musim orang nikahan, bulan April lalu juga adalah hari raya besar di banyak pura di Bali terutama di pura terbesar yang ada di Bali, Pura Besakih.

Tapi sebelum sembahyang ke Besakih, saya dan Ibu sembahyang ke pedharman pusat kami. Umat Hindu terbagi atas banyak hal. Mulai dari kasta, silsilah keluarga secara dinas, pedharman, dan dadia. Pedharman sendiri mirip dengan sistem clan yang orang - orang Jepang pakai. Atau mirip dengan orang Batak yang ada Manurung, Rajagukguk, dan lain-lain. Pedharman di Bali juga memiliki pura pusatnya. Dan Pedharman saya ada di desa Pulasari, kecamatan Tembuku, kabupaten Bangli.

Saya adalah bagian dari dadia Sri Aji Kresna Kepakisan. Dan pedharman saya adalah Dalem Tarukan. Dalem Tarukan sendiri adalah anak dari Sri Aji Kresna Kepakisan. Dadia paling besar, paling tua, dan paling awal ada di Bali adalah dadia Pasek. Dadia Pasek dibagi - bagi lagi menjadi bagian - bagian yang lebih kecil. Meskipun warga Bali terbagi menjadi banyak 'kelas', tapi persatuan dan persaudaraan tetap kami jaga, dan secara nasional kami tetap bagian dari NKRI.

Ini Bukan Pura Besakih (biasa)


Akhirnya ku ngenet lagi di kampus, tepatnya di gedung FG atas kampus Kimia Unud. Sekarang kampus lagi sepi, udah lama ga ngenet di sini. Bali lagi pada libur dalam rangka hari raya Pagerwesi. (Yang mau tau lebih lengkap tentang hari raya Pagerwesi, bisa baca di situ). Seneng banget hari ini bisa bangun pagi, mandi, sembahyang, sarapan terus cabut ke mekdi. Rencananya ngenet dulu sebelum ngelakuin aktifitas selanjutnya. Eh taunya wifi mekdi mati. Pindah ke KFC, juga not conected. Akhirnya transit ke kampus deh.

Sebulan yang lalu hampir aja ga sembahyang pas odalan (perayaan) gede di pura Besakih. Ibuk bilang odalannya sebulanan gitu. Pas ketemu satpam rusunawa, dia ngomong dalam bahasa Bali," De (panggilan nama depanku), kamu ga sembahyang ke Besakih? Kan besok nyimpen (hari terakhir atau penutupan odalan)".

Ini Bukan Jawab Pertanyaan (biasa)


Banyak pertanyaan di kotak komentar ketika ku ngebahas Hari Raya Saraswati. Sebelum mulai ku jawab, mending kalian baca dulu postingan itu biar agak mudeng. Buat yang udah baca, lanjut aja kalo gitu. :)

Ini Bukan Hari Raya Saraswati (biasa)


Postingan ngebut nih. Jam 12 nanti janji bimbingan ama pembimbing 2. Kemaren ga bisa ngeblog gara-gara wifi mekdi mati. Pulang-pulang rencananya ngebenerin bab 2, eh bablas ketiduran ampe jam 7. Bangun-bangun mata bengkak. Heu

Dua hari belakangan di Bali lagi ngerayain Hari Raya Saraswati. Hari turunnya ilmu pengetahuan. Umat Hindu melakukan persembahyangan memuja dewi Saraswati. Dewi ilmu pengetahuan sekaligus saktinya dewa Brahma. Ku lupa kalo punya padmasana di fakultas. Hampir aja ga sembahyang kesana. Untung aja diajakin sembahyang kesana.

Ini Bukan Nyepi (biasa)


Yeyy! Aku balik lagi dari peradaban setelah seharian Nyepi!
Ada komentar lucu nih :)












Ehm, gini ya, sebagai salah satu kerabat dekat ogoh-ogoh yang paling ganteng (dan paling serem di kalangan manusia), aku adalah spesies yang jago melarikan diri dan bersembunyi. So, ga ikut diarak dan dibakar. Hohohoho.

Ini Bukan Pengrupukan (biasa)


Saat pemuda pemudi Bali bikin ogoh-ogoh di kampung masing, aku sibuk dengan tugas akhir. Bener-bener derita mahasiswa semester akhir terancam terkucilkan dari pergaulan.

Envy banget liat temen-temen share di jejaring sosial tentang progress ogoh-ogohnya, kegiatan mereka menyiapkan acara pengrupukan, dan bla bala bla.. Tapi kalo pun aku senggang biasanya juga ga ikutan, hehe