Yang Katanya Siwaratri 2016


Bali libur lagi. Angka delapan di bulan Januari pada kalender Bali terlingkar merah, artinya kami semua yang tinggal di Bali diliburkan karena merayakan hari raya Hindu.

Pada tanggal itu umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Siwaratri. Perayaan yang ditujukan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.

Ada tiga cara merayakan Siwaratri. Yang paling sederhana: tidak tidur selama 36 jam, madia/menengah: tidak tidur selama 36 jam dan tidak makan 24 jam, dan yang paling tinggi tingkatannya ditambah tidak bicara selama 24 jam. Tapi gak sedikit juga yang bolos dalam perayaan ini. Termasuk saya.

Segala macam pantangan itu dimulai dari jam 6 pagi. Dari jam setengah 6 saya sudah bangun, lalu galau mau ngerayain Siwaratri apa enggak. Saya cari tahu lagi tata cara pelaksanaan Siwaratri yang bener. Ternyata ngelaksanain Siwaratri gak bole sembarangan. Musti ada sembahyang dan sarana prasarana yang disiapkan. Saya sudah terlalu mepet untuk menyiapkannya, gak ada waktu lagi.

Sebenarnya bisa saja Siwaratri dilaksanakan tanpa sarana sesajen atau apapun. Yang penting niat yang tulus, ikhlas, dan sungguh-sungguh. Toh, apapun cara yang kita tempuh, akan sampai kepada-Nya.

Hanya saja salah satu bukti kesungguhan dalam melaksanakan Siwaratri adalah dengan melaksanakan semua ritual yang diwajibkan. Jika dari awal saya sudah setengah - setengah melaksanakannya, jatohnya malah maen - maen. Seperti yang terjadi kepada sebagain anak muda Bali yang merayakan Siwaratri malemnya doang, padahal modusnya untuk ngumpul-ngumpul sama temen dan pasangan, pamer di medsos, lalu ujungnya malah pesta sex.

Itu niatnya kan udah salah. Belum lagi kalau mereka beneran begadang, lokasi begadangnya di Pura yang jauh dari rumah. Besok pagi saat balik ke rumah kan beresiko banget karena harus naik motor dalam keadaan kurang tidur/ ngantuk. Mendingan ngerayain Siwaratri di rumah atau di tempat suci yang jaraknya gak jauh dari rumah aja.

Makanya bagi saya sendiri, melaksanakan Siwaratri dengan mematuhi segala tata cara pelaksanaannya itu penting. Jika dilaksanakan dengan benar, Siwaratri dimulai sejak malam hari sebelumnya dengan melakukan persembahyangan yang ditujukan kepada Siwa, memohon agar Beliau berkenan menjadi saksi, serta kepada para leluhur agar berkenan memberi tuntunan dan bantuan. Dari sana saja niat seseorang bisa kelihatan. Memulainya dengan sembahyang (bahkan jauh sebelum hari-H), modus-modus negatif lebih bisa dihindari karena teringat usaha-usaha yang sudah dilalui.

Tata cara yang baru saya tahu 30 menit sebelum Siwaratri saya simpan untuk tahun depan. Tahun ini mungkin saya murtad, tapi tahun depan akan saya laksanakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Pengalaman Siwaratri saya beberapa tahun lalu di SINI.

Tata cara pelaksanaan Siwaratri yang bener selengkapnya bisa dibaca di SINI

1 bukan komentar (biasa):

Niki Setiawan said...

engga makan selama 24 jam?
engga tidur selama 36 jam?
wah kalo saya mah udah nyerah hahaha

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI