Pura Alas Purwo (Trip ke Lumajang part 3)


Salah satu hal yang membuat trip kali ini menyenangkan adalah cuacanya yang pas. Cuaca yang pas versi saya adalah yang mendung - mendung tapi gak tampak akan hujan. Jadinya teduh, tapi sinar matahari masih cukup enak untuk dinikmati.

Bagi yang sudah ngikutin tulisan saya sejak lama, pasti sudah tau alasan saya menyukai seperti ini. Karena cuaca seperti ini bikin setiap momennya jadi gampang teringat dan enak buat dikenang. Suasanya mirip seperti dalam mimpi - mimpi. Coba deh diinget - diinget, di mimpi biasanya cuacanya teduh kan? Jarang, bahkan tidak pernah cuacanya terik menyengat.

*

Selesai sembahyang di pura Blambangan, rombongan beranjak ke pura Alas Purwo. Travelnya bilang jalan kesana tidak bisa dilalui oleh bis, sehingga rombongan dibagi mejadi beberapa kelompok dan diangkut ke Alas Purwo memakai mikrobus (lebih tepatnya angkot yang disewakan :D). Tidak seperti bus yang kami tumpangi sebelumnya, di angkot ini kami musti desak-desakan dan berpanas-panasan. Bahkan angkot yang saya tumpangi tuas kaca jendela depannya, tempat saya duduk, sudah terlepas. Jadi kalo mau menaikkan atau menurunkan kaca, tuasnya musti saya pasang ke tempat yang semestinya, baru saya puter.

Sepertiga rute dari Blambangan ke Alas Purwo jalannya masih normal. Beberapa bagian tampak ada lubang dan aspalnya tidak rata, tapi itu masih batas wajar. Mulailah ketika memasuki daerah hutan, jalannya mulai menampakan wajah aslinya. Hancur banget. Salah - salah mobil bisa terbalik. Makin masuk hutan, makin parah. Bahkan ada yang tidak teraspal. Genangan air membuat jalanan penuh lumpur. Mobil - mobil yang menuju Alas Purwo masih kinclong - kinclong, yang balik dari Alas Purwo tanah di body mobilnya kalo kita taro biji kacang disana, bakal numbuh dah tuh.

Di pintu masuk hutan, tampak orang - orang sedang menggunduli hutan untuk dialih fungsikan jadi tanah pertanian. Ini adalah salah satu proyek pemerintah daerah setempat. Sedih sebenernya melihat ini. Hutan adalah satu - satunya harapan dunia untuk tetap bisa bernafas. Tapi tujuan alih fngsi lahan ini pun tidak salah. Perekonomian masyarakat jadi meningkat dan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi. Ironis memang, demi kebutuhan manusia, manfaat lain dari hutan yang lebih besar harus dikorbankan.

Rumah - rumah sepanjang jalan menuju Alas Purwo sama seperti rumah - rumah sepanjang jalan menuju dan di sekitar pura Blambangan. Yang paling membedakan dengan rumah - rumah di Bali selain lokasinya yang tidak di Bali (yakali!), tidak ada ukiran Balinya dan tidak ada pagarnya. Beberapa rumah ada yang memiliki pagar, tapi tidak setinggi pagar - pagar di Bali. Saya belum sempat menanyakan apa alasannya. Pak sopir sempet cerita kalo masyarakat sekitar situ sengaja memelihara anjing agar ketahuan kalo ada orang atau pencuri masuk rumah. Tapi kenapa enggak bikin pagar juga?

Ini baru asumsi saya, mungkin pagar dianggap sia-sia untuk menghalangi pencuri masuk. Ketiadaan pagar juga menunjukkan kalo masyarakat disini sifatnya terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. (Atau sekalian biar gampang kalau mau show up? :p)

Di tengah jalan sebelum memasuki hutan, iring-iringan mobil kami sempat melewati seorang pemuda mengendarai motor di sisi jalan yang berlawanan dengan kami. Awalnya sih biasa aja. Lama - lama dia mulai berulah. Dia meneriaki setiap mobil yang lewat, "Wong Bali CICIIIIIING..!!!"

Cicing artinya anjing dalam bahasa Bali, cuman versi kasarnya. Versi alusnya bisa kuluk, konyong,  mantan pacar, atau yang paling halus: asu.

Tapi karena pemuda ini ngomong menggunakan logat Jawa, dan memakai kata 'wong' yang sebagian dari kami tidak terbiasa memakainya, cacian pemuda ini jadi terdengan biasa aja. Kami hanya bisa terkekeh bersama di dalam mobil karena jadi terkesan lucu. Kekekekekek

Hal baru lainnya yang saya amati dari perjalanan kali ini adalah banyaknya orang - orang berada di tengah jalan meminta sumbangan. Kebanyakan sumbangannya ditujukan untuk keperluan masjid/mushola, misalnya untuk renovasi bangunan. Itu yang saya baca dari spanduk yang mereka bentangkan dan kata sang orator dengan mikrofonnya. Minta sumbangannya pun selalu di depan masjid/mushola. Mungkin untuk ngasi tahu,"Masjid ini loh yang mau kami perbaiki.."

Kadang saya suka kaget sih. Kecepatan kendaraan kami, baik angkot ataupun bus cukup tinggi. Tiba - tiba ada orang tengah jalan. Apalagi berdirinya tepat setelah tikungan. Untung pak sopir cekatan mengendalikan stir. Kayanya sih bapaknya sudah hapal posisi mereka. Secara jalannya sering mereka lewatin nganter tamu.

Di dalam hutan, di kiri kanan tampak pohon - pohon berdiri teratur rapi tinggi menjulang. Beberapa pohon sudah dikasi nomer di batangnya, kayaknya bakal ditebang. Pohon yang bisa saya kenali hanya pohon mahoni, sisanya saya tidak tau. Hehe..

Pura Alas Purwo indah sekali. Berbeda dengan pura Blambangan yang penampakannya seperti pura - pura Bali kebanyakan, pura Alas Purwo gerbangnya khas sekali. Ikonik. Penataan tempat duduk pemedek (pengunjung) yang hendak sembahyang tertata rapi. Tempat menghaturkan canang atau banten (sesajen) ditutupi jeruji besi. Itu artinya disini banyak monyet. Salah satunya sedang membaca tulisan ini. :p




Ibu - ibu yang naruh banten sangat teledor, kebanyakan lupa menutup kembali pintu jerujinya. Untung saja tidak ada monyet yang nekat masuk ke jeruji (soalnya monyetnya lagi sibuk baca tulisan ini :p :p)

Keluar pura saya mendadak haus banget. Air minum ketinggalan di bis. Saya putuskan untuk beli minum di warung di sekitar pura. Bapak saya memperingati untuk tahan saja hausnya. Dia takut harga barang disini mahal - mahal. Biasanya sih gitu, harga barang di sekitar pura bisa 4 sampai 5 kali lipat harga normal. Selain karena jumlah pengunjung yang banyak, pajak tempat mereka berjualan tampaknya juga tinggi. Sehingga mereka harus menaikkan harga barang biar balik modal. Target pasar mereka paling empuk biasanya anak - anak kecil/balita. Sayang anak.. sayang anak...

Dan beneran aja. Padahal saya sudah sengaja beli Sprite yang ada harga yang disarankan pabrik tertera di bungkusnya, tetep aja ibunya masang harga tinggi. Males nyari ribut, saya bayar seharga yang dia minta. Masa habis sembahyang ngerusuh, ga baik kan. Anggep sedekah.

Warung - warung di sekitar Alas Purwo banyak yang jual sarang lebah hutan (dikasi keterangan: ALAMI, BUKAN HASIL TERNAK!). Tapi emang iya sih, setelah saya lihat pohon - pohon di hutan ini banyak sarang lebahnya.

Ciri khas dari sembahyang di Alas Purwo adalah pemedek yang selesai sembahyang lalu medana punia (sedekah) ke tempat yang disediakan, akan diberi benang 5 warna yang bisa digunakan sebagai gelang. Karena diijinkan oleh petugasnya, saya sekalian minta untuk ibu, adik, dan pacarnya adik di rumah. #gamaurugi #serakah

Dari petugas pura sini, saya jadi tahu kalo sebenernya rombongan kami salah urutan masuk pura. Harusnya pura yang kami masuki terlebih dahulu adalah pura inti yang letaknya tidak jauh dari pura tempat kami bersembahyang. Tapi kata petugasnya lagi, itu bukan masalah besar. Yang penting niat sembahyangnya tulus. Tuhan kan ada dimana - mana. O:).

Singkat cerita, kami sekarang sudah otw balik ke Blambangan untuk kembali ke bis. Musti melewati jalan ekstrem yang tadi lagi. Yang bikin makin gokil adalah ada bis tujuan ke Alas Purwo ngotot lewat jalan itu. Yaelah bandel amat ini bis! Jelas aja jalan yang udah rusak bin sempit ini jadi macet. Kendaraan dari Alas Purwo ga bisa lewat karena badan jalan penuh oleh badan bis ini. Mana bis itu udah miring - miring kayak mau jatoh ke sawah di sampingnya.

Berkat kerjasama para sopir yang ada disitu, dan kesigapan sopir kami, saya dan rombongan bisa balik ke pura Blambangan dengan selamat. Bis yang tadi nyangkut tadi pun bisa lewat (setelah bisnya dibongkar kerangkanya sampai ke kursi-kursinya! Muehehehe #becanda).

Bye..bye.. mobil angkot yang panas dan gagang kaca yang copot serta pak sopirnya yang lincah. Coba bapak supirnya adalah sopir uber, saya kasi 5 bintang (y)

*

Trip Lumajang part 1part 2part 4.

0 bukan komentar (biasa):

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI