Showing posts with label gubug sederhana. Show all posts
Showing posts with label gubug sederhana. Show all posts

MAU MOTOR WARNA APA?


Dwi lagi bingung milih motor. Merk sudah ditentukan, penentuan warna yang belum. Pilihan yang ada adalah putih, silver, hitam, biru, merah, pink, dan kuning. Saya nyaranin warna kuning. Putih dan biru sudah banyak yang pakai. Saya tidak suka sesuatu yang terlalu lumrah. Silver, hitam, dan merah malah mengurangi kesan mewah dari motor yang kami incar.

JADI AROGAN DAN BEBAL KARENA MENSTRUASI

Satu lagi hari saya yang suram. Besok ada agenda penting, dan seperti yang pernah saya bilang tentang kemampuan bisa melihat masa depan, karena saya sudah tau agendanya kaya gimana dan sama siapa, besok akan jadi hari yang super berat banget. Tentu saja, saya hanya perlu bertahan agar bisa melalui ini semua. Tapi keraguan saya lebih besar dari biasanya. Ragu kalau bisa meliwati ini dengan baik - baik saja. Enggak hanya lecet, sepertinya rasa sakitnya akan keras lagi.

Jujur saya gugup banget. Ditambah lagi situasi di rumah lagi gak oke. Ini tentang istri saya.

Dia lagi dapet. Selama dapet, dia jadi emosional. Wajar, sih, saya ngerti banget. Walau saya gak pernah ngalamin, tapi saya sering menghadapi temen - temen cewek yang lagi mens. Di tempat kerja, kuliah, organisasi.

MITOS WAKTU BERJALAN LEBIH CEPAT KETIKA GALUNGAN

Dua hari setelah Galungan. Kalau temen - temen muslim ketika Lebaran bilang, "H+1 Lebaran, udah bosen sama yang santen - santen", saya juga mau bilang kalau udah bosen banget sama yang babi - babi. :))

Bahkan h-2 saja saya sudah bosen sama babi. Ibu saya banyak banget dapet daging babi dari seminggu sebelum Galungan. Entah itu beli, ataupun dikasi minta orang. Makanan itu menarik kalau dimakan gak sering - sering. Ketemunya setahun sekali bila perlu. Kalau terlalu sering, udah gak bikin penasaran. Malah ngebosenin.

H+2 Galungan. Ada satu mitos tentang Galungan yang mulai saya rasakan. Mitos yang secara sains bisa dijelasin. Saya pernah baca penjelasannya, tapi udah gak begitu jelas mengingatnya. Mitos kalau mendekati Galungan, waktu akan terasa cepat berjalan. Matahari masih terik, ternyata sudah jam 6 sore. Lalu transisi matahari dari jam 6 sampai jam setengah 7 terasa makin cepat. Dari terang dan gelap cepat sekali terjadi.

ISTRI DIBERI CAP ANGKUH

Senang sekali mendengar banyak kerabat dan saudara mau membantu saya dan istri menjemput anak pulang sekolah. Awalnya saya dan istri berencana menmeput anak bergiliran setiap harinya selama seminggu. Dengan resiko, bila tiba giliran saya, saya akan siang sampai ke kantor. Bila giliran istri saya, istri akan sangat malam pulang dari kantor.

Pekerjaan kami mungkin akan terganggu oleh hal ini. Tapi ini sudah kami pikirkan, dan resikonya sudah siap kami ambil. Ini jalan tengah dimana semua bisa adil dan berimbang. Anak tidak terlalu dikorbankan dari segi kualitas pendidikan yang Ia dapatkan, kantor pun masih bisa mentoleransi keterlambatan kami.

PENYEBAB BAD MOOD SETIAP PAGI

Dulu pernah sebal betul dengan orang yang kerjanya gak bener di kantor dengan alasan di rumahnya lagi ada masalah. Sekarang saya di posisi orang - orang itu. Memang benar mitos yang mengatakan: jangan pernah membenci terlalu besar, nanti dia jadi milikmu.

Sekarang sampai kantor bawaanya males. Gak pengen ngapa - ngapain. Gak mau ngomong sama siapa - siapa dulu. Pokoknya dateng, rebahan di kursi, buka bekal, makan, ngopi, ambil kerjaan. Istilahnya: lagi dalam mode "senggol bacok".

SELAMA SATU MINGGU CUTI BERSAMA IDUL ADHA 2023

Liburan yang sekarang bukan liburan seperti yang dulu lagi. Semenjak Awya sudah bisa minta, saya harus selalu punya kekuatan untuk mengendalikan situasi ketika ada di rumah.

Kalau saya di rumah, neneknya anak - anak maksimal ngajak Gata. Tapi kalau Gata udah kumat rewelnya minta saya (mungkin bosen sama neneknya terus), otomatis saya ngajak tiga anak, dan biasanya Nayaka yang paling bisa diminta pengertiannya, karena baru hanya dia yang bisa diajak bicara. Adik - adiknya masih belum ngerti.

MARAH KARENA MENCUCI BANYAK PIRING KOTOR DI PAGI HARI

Jam 5 pagi, saya menulis tulisan ini. Di depan sumur piring, gelas, sendok beradu. Berisik. Semoga tak ada yang pecah.

Ibu saya sedang mencuci piring dengan perasaan jengkel dan marah yang di tahan. Caranya menaruh piring, atau mengaduk air cucian, orang tuli pun tahu kalau itu pakai cara yang kasar.

Cucian memang cukup banyak. Didominasi piring anak - anak dan gelas. Istri saya kalau ngasi makan ke si bungsu yang masih bayi memang setidaknya akan menghasilkan tiga perabotan kotor. Piring, sendok, dan gelas. Dalam sehari minimal ada 9 benda kotor.

SELALU SAKIT KETIKA LIBUR

Saya gak ngerti sama badan sendiri. Setiap libur, selalu sakit. Migrain adalah penyakit paling sering singgah. Batuk, demam, pilek, meriang, flu sesekali ikut mampir.

Libur Isa Almasih (18 Mei) kemarin pun saya sakit lagi. Sakitnya bahkan sudah muncul kemarin sorenya. Tenggorokan sakit kalau nelen, badan pegel - pegel, dada sesak, dan tentu saja: migrain.

Ibu ketika sudah bisa lepas dari anak-anak saya langsung mijet dan bikinin air jeruk untuk sakit tenggorokan saya. Istri handle anak - anak karena saya tidur lebih cepat saking lemesnya. Malemnya istri ngolesin minyak di dada dan leher karena hidung saya mampe di kedua lubangnya.

Gara - gara sakit ini, alhasil saya ga maksimal bisa nemenin anak main di rumah padahal mumpung saya libur.

Besok saya libur lagi. Dua hari. Semoga penyakit - penyakit ini gak ada yang kumat.

SAYA LEGA SEKALI KALAU ISTRI NGABARIN SUDAH SAMPAI KANTOR

Selalu senang tiap istri bilang udah sampai kantor. Saya tahu perjuangan dirinya untuk bisa berangkat tiap pagi.

Bangun tidur, handle anak - anak ketika saya harus sudah ke kantor duluan karena jam kerja kami yang berbeda.

TIDAK MENYANGKA EFEK MECARU SEBESAR INI

Acara Mecaru di rumah Karangasem selesai kemarin. Saya tak menduga efek after ceremony bakal seberkesan ini.

Padahal yang berjuang paling keras adalah ibu saya. Mempersiapkan semua perlengkapan, bahan, mengkordinasikan agar semua berjalan sesuai rencana. Yang kedua adalah istri saya, Dwi. Dia yang kebiasaan tidur barengan sama anak - anak paling telat jam 10 malem dan bangun paling cepet jam setengah 7 (barengan juga sama anak - anak), sering saya lihat begadang bikin perlengkapan upacara malemnya.

Untuk Anak - Anakku, Tentang Nenek Kalian

Hutang pada orang tua tidak akan bisa lunas. Waktu, tenaga, uang, tidak akan cukup. Tidak akan sempat. Tapi saya punya mimpi, suatu saat ini bisa mulai mengubah keadaan, dari terus menerus memberi beban menjadi mulai membayar sedikit demi sedikit.

Saat ini saya masih merepotkan. Dibalik tubuhnya yang kurus dan kian mengecil, tersimpan kesabaran dan kekuatan mengasuh tiga cucunya, yang saya dan istri tinggal kerja dari pagi hingga sore.

Saya tak pernah menanyakan bagaimana caranya Ia mau makan, kencing, apalagi buang air besar. Apalagi bila ada tamu ke rumah yang jumlahnya tak jarang. Saya gak siap dengar jawabannya. Hati saya gak siap mendengar penderitaan yang pasti dialami ibu.

Si sulung dan si tengah yang terus berkelahi berebut mainan. Mainan ada banyak, tapi belum menarik kalo belum dipegang saudaranya. Setelah saudaranya melepas mainan itu, yang lain pun ikut hilang hasrat untuk memainkannya. Jadinya, mainan yang tadi diperebutkan, jadi terabaikan.

JADILAH ORANG DEWASA YANG TIDAK MENYEBALKAN

Kemarin saya ketiduran. cucian lupa digosok. Pagi ini sebelum mandi saya sempatkan nyuci. Cuman jemurnya aja yang belum. Sudah minta tolong istri sebelum berangkat tadi, kalo dia lupa atau gak sempet, mamti sore saja jemurnya.

Abis nyuci, saya lanjut mandi. Seperti biasa minta air hangat ke dapur. Ibu lagi disana, masak. Sambil nuang air hangat, dia marah - marah. "Kenapa saya lama sekali ngambil air?" katanya.

"Saya nyuci tadi", jawab saya.

Dia masih gak terima. Masih marah- marah. Katanya saya kaya gak punya istri sampai harus nyuci sendiri.

MASALAH TIDAK JADI MASALAH KALAU TIDAK DIANGGAP MASALAH

Saya pernah sangat marah. Ketika di jalan hendak ke kantor, hati saya terasa panas. Dada saya sesak. Meminta tolong kepada seseorang, dua kali, untuk hal yang berbeda, di waktu yang berdekatan, tapi hingga ketika saya menuju kantor pun tidak dipenuhi. Sama sekali.

Diri saya terbakar dendam. Api yang tersulut oleh rasa kecewa yang amat besar. Bila nanti orang itu minta sesuatu, dan itu pasti, saya akan wujudkan. Namun dengan satu pesan ,"Ingatlah dulu aku pernah meminta bantuanmu tapi tak kau berikan."

Ajaibnya, hingga kantor, emosi saya reda. Bahkan nyaris lenyap. Hilang entah kemana?

Kepala yang tiba - tiba dingin saya pakai untuk mengambil sebuah keputusan tepat. Saya bicara baik-baik dengan orang ini, dan semua urusan clear.

Tentu gak semua bisa begini. Saya pun gak sengaja. Dan saya bersyukur masih "dibantu" oleh Tuhan untuk mengatasi semua ini. Untuk tetap bisa jadi manusia yang lebih baik.

Kita memang sebaiknya menggantungkan kepercayaan kepada Tuhan, jangan kepada manusia atau benda lain. Nanti kecewa. Dalam kasus ini saya benar - benar butuh bantuan orang lain, tak bisa saya lakukan sendiri. makanya dengan sangat terpaksa harus minta bantuan orang.

Lalu saya ingat istri saya. Yang orang lihat dia itu pasif, kurang inisiatif, lamban. Tapi mereka tak tahu, istri saya adalah orang paling woles yang pernah saya kenal. Dan saya bersyukur dia jadi istri saya.

Dia tidak cepat marah, kecuali kasusnya emang udah keterlaluan. Dia selalu tenang. Prinsip dirinya: masalah tidak jadi masalah jika kita tidak menganggapnya masalah. Dia mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang lain, yang membuatnya tidak cepat kepancing dan panik. Walau kesannya lambat dalam bereaksi atau merespon ketika dimintai saran, seringkali kita butuh tipe yang seperti ini untuk meredam keadaan yang lagi chaos.

Seperti saat saya menghilangkan kunci motornya. Dia tidak marah, padahal saya ngerasa bersalah banget. Di kunci itu tergantung kunci lain yang entah kunci apa dari sesuatu yang Ia punya di rumah orang tuanya. Dia hanya mendukung saya untuk segera mencarikan tukang kunci agar motornya bisa dipakai lagi. Reaksi yang sangat berbeda dibanding ibu saya yang kesal atas kejadian ini, serta saya yang cemas motornya jadi rusak karena diam lama. Padahal semua berjalan seperti prinsip istri saya: kalau sudah dijalani, gak seribet pikiran kita kok, dan akhirnya tetap akan selesai.


WARGA DIGUNJING TETANGGA KARENA STOP PAKAI TIMBA DAN BERALIH KE POMPA

Kita gak bisa mengatur apa yang orang lain bisa dan gak bisa raih. Kalau kita kesel dan marah dengan pencapaian orang, setelah itu memang orang itu bakal gak jadi berhasil?

Mudah kata orang yang bilang, "Ubah energi negatif jadi energi positif". Ubah rasa iri, marah, dan cemburu, jadi motivasi untuk lebih sukses seperti orang tersebut. Tapi dalam prakteknya, bisa saya jamin, itu gak mudah!

Setelah menemukan sebuah ilmu yang secara ajaib muncul videonya di youtube saya, saya menemukan cara lebih cocok untuk saya dalam menghadapi pencapaian orang. Ilmu itu namanya stoicism atau stoikisme.

Ikut Pilkades, Ada Calon Mengejutkan!


Abis nyoblos untuk pilkades, langsung ajak anak ke lapangan.

Tiap minggu saya usahakan ajak anak-anak kesini. Kapan lagi? Apalagi besok saya gak bisa nemenin mereka. Besok ada kerjaan di kampung seharian.

Seinget saya ini adalah pilkades pertama saya. Cukup seru. Dari 5 calon, ada 3 yang main ke rumah. Dua datang langsung, satu lagi dari tim sukses mereka.

Diantara kelima calon, ada kerabat dekat saya. Masih keluarga dari ibu. Satu lagi secara mengejutkan adalah tentara yang menangani saya ketika kena covid kemarin.

TIDAK SEMUA KELUARGA SIAP PUNYA PASIEN COVID

 

Tulisan pertama di hari pertama dinyatakan positif covid.

Saya putuskan mati dengan cara ini saja. Mati karena covid.

Harusnya saya makin banyak makan. Orang sakit demam aja dipaksa banyak makan kan? Tapi saya terakhir makan adalah kemarin pagi. Sisanya ngemil-ngemil kecil buat ganjel.

Orang rumah masak seperti biasa layaknya gak ada yang sedang isoman. Sedangkan covid bikin lidah gak bisa merasakan manis dan gurihnya makanan. Yang tersisa hanya pedas dan pahit. Jadi gak semua makanan bisa saya makan. Saya belum terbiasa dengan lidah seperti ini. Bila makanan ga ada rasa pedas dan pahit, saya hanya merasakan tekstur dan suhu makanan tersebut. Beginikan rasanya jadi vegan?

SATU MINGGU LEBIH TANPA PENGASUH

Sebenernya saya gak enak ngomongnya karena sebagian orang, mungkin sebagian besar, gak suka sama PPKM. Sama, saya pun tidak. Meski ketidak sukaan kita mungkin oleh alasan yang berbeda. Tapi kali ini saya terbantu dengan pembatasan betaktivitas oleh pemerintah untuk tidak keluar rumah selama pandemi.

Karena memang anjuran dari pemerintah untuk diam di rumah saja, saya tak perlu ijin lagi untuk tidak ke kantor karena harus bantu ibu ngejagain anak-anak. Anak tetangga yang biasa bantu jaga lagi ada acara keluarga. Kurang lebih sekitar dua mingguan, dan semoga abis itu dia mau balik kerja :))

DIMINTA MASUK ADAT BALI


Berkali - kali saya disuruh masuk adat. Alasannya: karena saya sudah punya tanah di daerah sini.

Sebenarnya ini tidak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Bagi yang punya tanah dan ditinggali, harus masuk warga adat. Masalahnya, dari bapak saya, hingga saya punya dua anak seperti sekarang, saya belum pernah terlibat dalam aktivitas adat.

Banyak ketakutam dalam diri saya untuk memulai pertama kali. Saya bukan tipe yang cepat membaur ke lingkungan baru. Belum lagi, dari saya kecil sulit masuk ke karakter masyarakat disini. Saya takut dibully, atau dikucilkan, atau mungkin dimanfaatkan. Menjadi korban.

BUAT KAMU YANG BACA INI, TETAPLAH HIDUP.


Setelah beberapa kali meihat beliau sakit, akhirnya, kemarin paman meninggal.

Ia adalah adik dari ayah saya. Ayah saya empat bersaudara. Seorang kakak perempuan, dan dua adik laki - laki. Kini hanya tinggal ayah dan bibi.

Tidak terlalu banyak kenangan bersaa paman saya. Tinggal di perantauan, membuat saya dan keluarga jarang berinteraksi dengan keluarga di kampung. Meski begitu, mengingat - ingat lagi kenangan bersama paman yang sedikit itu, tetap rasanya sedih juga.

Tangannya yang kidal.. Caranya berekspresi saat berbicara isyarat.. Dan suara tawanya.

Beliau sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Ia didiagnosa diabetes hingga gagal ginjal. Keterbatasan bahasa karena paman adalah seorang tunarungu menyebabkan pengobatannya tak maksimal. Mengkomunikasikan tentang metode cuci darah yang harus rutin dia jalani mengalami kendala. Yang Ia tangkap adalah darahnya sedang diambil untuk dijual.

KAMI TIDAK AKAN SELAMAT SAAT CORONA


Dua Maret 2020 Presiden mengumumkan kasus pertama Corona di Indonesia. Sedangkan di Bali masyarakat dihimbau tetap diam di rumah mulai pertengah Maret hingga akhir Maret.

Awal - awal diam di rumah masih bisa disiplin. Lama - lama, saya, dan keluarga, mulai membandel. Istilahnya 'bolos karantina'.

Keluarga saya lebih dulu  bolos karantina. Istri masih berangkat kerja seperti biasa. Padahal dia kerja di Ubud, interaksi dengan bule sangat tinggi. Ibu saya juga masih sering ke pasar bawa orderan dan belanja. Sedangkan dia dan bapak saya sama - sama gak mau pakai masker. Belum terbiasa, kata mereka. Dan sulit sekali memaksa mereka untuk berubah.

Jadi, seandainya Bali ada di Eropa, mungkin kami sudah tidak selamat.