BURNT (2015)


Burnt berhasil memuaskan harapan saya dari sebuah film bertema kuliner. Mata saya dimanjakan oleh penampakan makanan - makanan enak, serta proses membuatnya yang sudah seperti melukis di atas kanvas.

Awalnya saya kira Burnt ini adalah sekuel, karena di awal diceritakan tokoh utama baru terbebas dari hukuman, lalu mulai menyatukan puing - puing kehidupannya kembali. Cuman setelah saya cari, ternyata Burnt adalah film tunggal. Steven Knight sebagai penulis cerita sukses menyampaikan masa masa lalu dengan baik melalui dialog - dialog antar tokoh, dan dari adegan - adegan yang dialami si tokoh utama. Meski tidak ada adegan flaskback ke masa lalu, saya bisa tahu kurang lebih apa yang terjadi di masa lalu pada film ini.

Saya ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dapur di balik sebuah restoran. Saya jadi mengerti, dibalik makanan yang kita santap saat berkunjung ke tempat makan, ada keringat dari pembuatnya, ada tekanan mental yang dialami oleh crew, dan perjuangan untuk memberi sesuatu yang sempurna kepada pengunjung.

Perpanjang SIM Online di Poltabes Denpasar


Pada akhirnya saya gak kesampean ngurus SIM Online yang sesungguhnya. Soalnya pada saat bawa berkasnya ke poltabes, disana gak ada yang bisa saya tanya. Loket informasi kosong, beberapa polisi yang saya tanya malah nyuruh saya ke tempat pengurusan SIM secara manual. Ujung - ujungnya saya malah ngikutin prosedur seperti perpanjang SIM offline. -___-

Dan saya baru melihat lokasi registrasi ulang pengurusan SIM Online ketika nunggu antrian cetak foto melalui jalur normal. #shithappen.

Ruangan pengurusan SIM waktu itu lagi penuh banget. Saking penuhnya sampe saya gak bisa lihat ruangan pengurusan SIM online. Pengunjung yang datang pun pada berdesak-desakan di depan loket. Tidak ada sistem antri di markas petugas keamanan sungguh sebuah ironi.

SEORANG PRIA NGAMUK DI PUSKESMAS DENPASAR


Jika hendak berhadapan dengan birokrasi, ngurus surat dan semacamnya, kita musti siap nyiapin waktu lebih. Makanya pas denger di Jakarta dan daerah lain sudah bisa ngurus surat - surat kependudukan dan hal lainnya kurang dari 10 menit, saya iri.

Bulan ini masa berlaku SIM saya habis. Saya mulai memutar otak bagaimana teknis ngurus SIM yang akan saya tempuh. Selama ini saya ngurus SIM-nya lewat calo. Bayarnya lebih mahal, tapi tidak perlu capek - capek antri, berdesak-desakan, dan memakan waktu yang lama. Kalau mau sesuai tarif normal, musti nyiapin waktu, tenaga, dan kesabaran. Seperti hukum tak tertulis yang berlaku dalam bisnis pelayanan.


END (Trip ke Lumajang part 4)


Skedul selanjutnya sekembalinya kami dari Alas Purwo adalah mandi. Sambil nunggu antrian, saya mengisi batre hape. Saya mempersiapkannya sangat matang hingga bawa colokan triple socket dari rumah, biar ga rebutan terminal.

Kami mandi di kamar mandi yang tersedia di Pura Blambangan. Kamar mandinya cukup banyak. Bahkan ada kamar mandi khusus untuk pendeta. Dan yang paling penting: kamar mandinya GRATIS!

Kamar mandinya memang sempit. Tapi sangat bersih. Untuk sekelas kamar mandi umum, hal ini sangat spesial. Rasanya kalo saya ngekos deket pura Blambangan, saya akan tiap hari mandi kesitu. Sekalian biar hemat biaya air.

Usai mandi, kami makan bareng. Menu yang sama: nasi kotak. Kayaknya lauknya pun juga sama dengan yang kami dapatkan saat baru berlabuh di Ketapang.

Pura Alas Purwo (Trip ke Lumajang part 3)


Salah satu hal yang membuat trip kali ini menyenangkan adalah cuacanya yang pas. Cuaca yang pas versi saya adalah yang mendung - mendung tapi gak tampak akan hujan. Jadinya teduh, tapi sinar matahari masih cukup enak untuk dinikmati.

Bagi yang sudah ngikutin tulisan saya sejak lama, pasti sudah tau alasan saya menyukai seperti ini. Karena cuaca seperti ini bikin setiap momennya jadi gampang teringat dan enak buat dikenang. Suasanya mirip seperti dalam mimpi - mimpi. Coba deh diinget - diinget, di mimpi biasanya cuacanya teduh kan? Jarang, bahkan tidak pernah cuacanya terik menyengat.

*

Selesai sembahyang di pura Blambangan, rombongan beranjak ke pura Alas Purwo. Travelnya bilang jalan kesana tidak bisa dilalui oleh bis, sehingga rombongan dibagi mejadi beberapa kelompok dan diangkut ke Alas Purwo memakai mikrobus (lebih tepatnya angkot yang disewakan :D). Tidak seperti bus yang kami tumpangi sebelumnya, di angkot ini kami musti desak-desakan dan berpanas-panasan. Bahkan angkot yang saya tumpangi tuas kaca jendela depannya, tempat saya duduk, sudah terlepas. Jadi kalo mau menaikkan atau menurunkan kaca, tuasnya musti saya pasang ke tempat yang semestinya, baru saya puter.