MEKANISME PUNYA KELUARGA MENINGGAL SAAT CORONA


Ini semua dari apa yang saya dengar dan lihat di rumah saya. Mungkin ada beberapa perbedaan dari apa yang terjadi sebenarnya di kampung saya di Buleleng.

Jadi kalo ada keluarga yang baca tulisan ini (harusnya sih ada yang baca ya karena postingan ini akan saya share di facebook dengan judul postingan yang amat jelas seperti yang tertera di atas) dan ingin mengkoreksinya, bisa langsung komen di bawah, atau sampaikan ke saya lewat akun sosmed saya yang kalian tahu.

Saat penyakit paman kambuh, langsung kami larikan ke RSUD Kabupaten Buleleng dengan bantuan ambulan. Disana kami dirujuk ke RSUP Sanglah di Denpasar untuk tindakan pencegahan kalau - kalau paman kami kena Corona.

Sebelumnya, untuk informasi, paman kami menderita diabetes dan gagal ginjal.

YANG LAIN BERHASIL, SAYA TIDAK


Wabah menyerang dunia, ekonomi sekarat. Manusia dihimbau untuk tetap di rumah, tidak boleh ada kerumunan, saat bertemu harus berjarak. Sedangkan mayoritas pekerjaan di negeri ini masih menggunakan metode offline atau tatap muka langsung.

Terlebih lagi Bali yang pendapatan daerahnya bergantung pada Pariwisata. Para turis tidak berani keluar dari rumahnya, dan pemerintah tidakberani membuka pintu untuk mereka khawatir membawa wabah. Akhirnya pariwisata pun hibernasi.

Sedangkan negeri ini belum siap menghadapi situasi ini.

BUAT KAMU YANG BACA INI, TETAPLAH HIDUP.


Setelah beberapa kali meihat beliau sakit, akhirnya, kemarin paman meninggal.

Ia adalah adik dari ayah saya. Ayah saya empat bersaudara. Seorang kakak perempuan, dan dua adik laki - laki. Kini hanya tinggal ayah dan bibi.

Tidak terlalu banyak kenangan bersaa paman saya. Tinggal di perantauan, membuat saya dan keluarga jarang berinteraksi dengan keluarga di kampung. Meski begitu, mengingat - ingat lagi kenangan bersama paman yang sedikit itu, tetap rasanya sedih juga.

Tangannya yang kidal.. Caranya berekspresi saat berbicara isyarat.. Dan suara tawanya.

Beliau sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Ia didiagnosa diabetes hingga gagal ginjal. Keterbatasan bahasa karena paman adalah seorang tunarungu menyebabkan pengobatannya tak maksimal. Mengkomunikasikan tentang metode cuci darah yang harus rutin dia jalani mengalami kendala. Yang Ia tangkap adalah darahnya sedang diambil untuk dijual.

KAMI TIDAK AKAN SELAMAT SAAT CORONA


Dua Maret 2020 Presiden mengumumkan kasus pertama Corona di Indonesia. Sedangkan di Bali masyarakat dihimbau tetap diam di rumah mulai pertengah Maret hingga akhir Maret.

Awal - awal diam di rumah masih bisa disiplin. Lama - lama, saya, dan keluarga, mulai membandel. Istilahnya 'bolos karantina'.

Keluarga saya lebih dulu  bolos karantina. Istri masih berangkat kerja seperti biasa. Padahal dia kerja di Ubud, interaksi dengan bule sangat tinggi. Ibu saya juga masih sering ke pasar bawa orderan dan belanja. Sedangkan dia dan bapak saya sama - sama gak mau pakai masker. Belum terbiasa, kata mereka. Dan sulit sekali memaksa mereka untuk berubah.

Jadi, seandainya Bali ada di Eropa, mungkin kami sudah tidak selamat.

HARI GINI MAIN HAYDAY


Saya paling males untuk mencoba sebuah game karena saya orangnya gampang kecanduan. Saya harus memastikan dulu kalo saya bisa tidak terikat oleh game itu, atau game itu memang benar - benar worthed, baru saya putuskan untuk mencobanya.

Makanya, ketika istri nawarin main Hay Day, saya menolaknya.

Hay Day adalah game pertanian. Kita bisa menanam tanaman, mengolah bahan hasil panen, mencari ikan,  menambang, dan menjual hasil pertanian serta melayani pesanan.