(ga sekedar) Bule Jerman ke Rumah


Hari ini tepat setahun lalu pertama kali saya mulai menjalin komunikasi dengan pacar di awal pertemuan kami. Media yang kami gunakan via SMS. Tanggalnya gampang diinget karena bertepatan dengan hari Ibu.

Facebook, TV, BBM, semua temanya tentang hari ibu. Ibu saya sendiri kalo diingat - ingat tahun ini ada 2 sifat yang menonjol. Pertama: dia gampang ketawa dan ketawanya renyah sekali. Hanya mendengar dia ketawa saja satu rumah ikut ketawa. Tawanya menjadi sumber bahagia kami, seakan seorang comic stand-up comedian paling petjah, anggota keluarga yang lain penontonnya, rumah kami panggungnya, dan suara ketawanya adalah bit sekaligus punch line miliknya yang gak pernah gagal bikin kami terbahak - bahak.

Sifat kedua adalah kecepatan berpikir yang tak diikuti oleh kecepatan bicara. Bibir dan otaknya gak nyambung. Otaknya sudah memerintah sesuatu, tapi lidahnya belum siap. Sering terjadi dialog - dialog seperti ini:

Ibu: 'Wan, tolong ambilkan itu di sebelahnya itu ya!'

Saya: 'Oke..'

Dan anehnya saya ngerti! Meski hanya menggunakan kata 'itu'.

(ga sekedar) Cara Meraup Banyak Uang Selain dari Bekerja


Sebelumnya saya mau cerita dulu. Setelah sekian lama akhirnya dapet juga komentar kayak gini lagi di mari.

Itu komentar yang masuk ke tulisan saya yang ini: http://separonyolong.blogspot.com/2014/12/ga-sekedar-hadapi-hujan.html

Selama ini yang muji palingan cuma pacar doang. Itu pun kalo kita putus pujian akan jadi cacian. :))

Terima kasih untuk siapapun itu, dari komentarnya yang detail kayaknya ini dari salah satu temen blogger lama saya. Mudah - mudahan cewe.. AMIN!

Setelah saya cek ke link yang dipakai untuk membuat komentar, mengarah ke situs kayak majalah online gitu dan redaksinya memang ada beberapa temen yang saya kenal, dan semuanya cowo. Huhu

(ga sekedar) Hadapi Hujan


Siapkan dirimu, hujan telah tiba.

Saya sendiri suka hujan. Asal gak bikin banjir aja.

Banjir bukan salah hujan sebenernya. Terus salah siapa? Salah gue? Salah temen - temen gue? *kemudian dicium Rangga*


Mengingat gimana saya ngemis - ngemis ke tuhan biar diturunin hujan pas kemarau kemaren, gimana saya misuh - misuh ke orang - orang yang menembakkan dua laser raksasa ke angkasa setiap punya acara untuk memecah awan, saat hujan tiba seperti sekarang saya berjanji untuk tidak akan mengeluh apapun yang terjadi akibat hujan. Tidak akan seperti orang - orang yang ngomel - ngomel kepanesan ketika kemarau, tapi setelah turun hujan tetep marah - marah. Maumu opo toh lee..??

(ga sekedar) Tukang Suruh


Orang - orang di kantor mulai seneng merintah. Mungkin karena bekerja di instansi pemerintah, berati kerjanya cuma merintah.

Perintah - perintah ini awalnya terasa sebagai permintaan tolong. Tapi makin lama orang - orang ini jadi kebiasaan. Dan objek yang disuruh selalu sama. Saya.

Tugasnya juga sebenernya bisa mereka lakukan sendiri. Beli makan ke luar, ngambil atau nganter sesuatu ke  ruang lain, motocopy ke luar kantor, dan semua kerjaan - kerjaan yang jika mereka yang lakukan akan  memaksa mereka mencabut pantat dari kursi. Lama - lama saya bisa disuruh nyebokin mereka juga.

Fenomena ini menandakan rekan - rekan kerja saya terserang penyakit paling berbahaya di Indonesia.

(ga sekedar) Perawan & Seks Bebas


Beberapa minggu yang lalu kembali heboh soal tes keperawanan sebagai syarat masuk kepolisian. Kenapa isu ini naik lagi? Bukannya tes ini sudah dilakukan sejak lama? Bahkan teman dan kerabat saya yang di kepolisian kembali dites keperawanan jika hendak menikah.

Pergaulan jaman sekarang emang makin parah. Kalau ngomongin seks bebas mah dari jaman bapak saya belum jadian sama ibu juga udah terjadi. Cuman masih menjadi hal tabu untuk dibicarain. Memasuki tahun 80 - 90an masalah ini baru sedikit demi sedikit diangkat, namun orang - orang yang dianggap atau diketahui menjadi pelaku seks bebas masih dianggap 'penyakit' di tengah masyarakat. Perubahan drastis terjadi kala waktu memasuki milenium baru. Orang - orang gak segan lagi mengaku pernah melakukan hubungan seks, alias menjadi pelaku seks bebas. Lucunya, masyarakat gak anti lagi dengan orang - orang seperti itu.

Mungkin masyarakat sudah menyerah. Bisa saja mereka telah lelah. Melawan seks bebas seperti memerangi korupsi, dan mirip himbauan untuk berhenti merokok. Jika korupsi sulit dilawan karena tindakan hukum yang masih terasa tidak adil di mata orang awam (orang kecil dapet hukuman berat, pelaku utama dapet hukuman lebih kecil dari tuntutan jaksa - dapet remisi masa tahanan mulu sampai akhirnya bebas bersyarat - dihukum seumur hidup tapi kamar penjaranya lebih mewah dari kamar anak kos - sekarang bisa S2 pula!), seks bebas dihantui dengan efek buruk seperti hamil di luar nikah yang berakibat pernikahan dini hingga AIDS. Tapi ancaman terhadap pelaku seks bebas tersebut seperti orang kesurupan di acara-acara misteri di TV. Serem, tapi ga bikin penonton di rumah takut. Mirip seperti penyakit yang menghantui perokok, menakutkan, tapi perokok gak akan kapok. Yang enak - enak emang susah ditinggalin.