MUKA TERANCAM CACAT PERMANEN


Gambar di bawah ini mewakili saya banget.


Tapi kata 'rencana liburan' diganti dengan 'daftar pengeluaran bulan ini'.

Pas gak bisa kemana - mana karena fokus belajar untuk tes CPNS (yang pada akhirnya cuma bisa betul kurang dari setengah soal ketika tes), saya sudah berangan - angan beli kebutuhan - kebutuhan yang selama ini ga sempet saya beli. Sekalian melepas stres setelah penat sekitar 2 hari terkurung dengan materi ujian.

Realitanya, abis ujian, saya harus terkurung lagi dalam kerjaan yang saya ga tau selesainya entah kapan. Kerjaan ini merobek daftar to do list yang sudah saya buat. Ditambah lagi, disaat yang sama wajah saya merah, bengkak, dan perih seperti terbakar.

Awalnya cuma bengkak biasa di mata kanan. Saya pakai cara ibu saya: tusukkan ujung bawang putih ke puncak bengkak, lalu buang bawangnya ke perempatan jalan. Mitos banget, sih, cuman saya pengen tau juga, berhasil apa enggak.

Agak enakan sih, cuman sampe sore bengkaknya belum ilang. Lalu dapet saran bawang putihnya harus jenis lain. Wadaw, makin sulit aja mitosnya. Ini mah cara ngeles orang yang bikin mitos yang mitosnya gak berjalan dengan baik!

Saya coba tutupi mata saya dengan kacamata biar ga mencolok. Tapi bukannya gak mencolok, malah jadi pusat perhatian. Orang - orang malah pada penasaran karena saya tumben pakai kaca. Ujung - ujungnya semua jadi tahu kondisi mata saya. Respon orang yang melihat kondisi mata saya ada dua: kaget, dan sisanya bilang ini efek ngintipin cewek mandi.

Mereka tahu aja saya suka lihat pantatnya bu kantin dan temen se-ruangan. :D

Males sekali sebenernya jawabin pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda. rasanya pengen ngerekam suara aja, dan ketika ada yang nanya, tinggal diputer lagi. Tapi mau gimana lagi, saya harus jawab pertanyaan mereka satu per satu dengan sabar.

Ada yang ngasi saran untuk mata saya. Katanya olesin bawang putih yang udah dikupas hingga keluar airnya ke daerah bengkak. Saya olesin tuh bawang yang udah congkel kulitnya (ga saya belah atau saya hancurin biar sisanya masih bisa dipake. #peritungan). Perih. B A N G E T.

Tapi ajaibnya jadi beneran kempes. Ga tau deh apa penyebabnya. 

Bengkaknya mulai kempes dan mulai tampak ada luka yang mengering. Bukan luka yang di hati, itu mah luka dari mantan yang emang dari dulu sudah sembuh. Lukanya di bagian atas kelopak mata maksud saya. Seperti digigit serangga. Dan keesokan harinya luka - luka baru bermunculan di sekitar wajah saya. Awalnya di pelipis kanan, lalu mata kiri ikut bengkak, dan pelipis kiri juga luka.

Ketika sempat pulang kampung, ibu mencuci muka saya dengan air hangat dicampur garam. Rasanya lumayan baikan. Bu kantin dan kesubag umum di kantor juga menyarankan hal yang sama, saat saya ketemu mereka di kantor setelah saya balik dari kampung.

Ngompres mata dengan air anget dan garem ga bikin saya puas dengan efeknya. Mata saya masih bengkak. Bahkan bengkaknya hanya pindah dari mata kanan ke kiri. Saya tanya - tanya lagi caranya ke orang yang bukan ahlinya. Suara terbanyak nyaranin olesin minyak kelapa.

Siap.


Minyak kelapanya udah dapet. Saran dari orang yang bukan pakar siap saya praktekan. Agak ironi sih sebenernya soal minyak kelapa ini. Saya yang sehari - hari jual minyak kelapa ibu saya ke kantor, karena sekarang ga sempet pulang, malah bingung minta minyak ke orang - orang. Hidup emang bener - bener kaya roda. :D

Baru satu kali memakai resep minyak ini, muka saya malah makin kambuh. Mungkin bukan karena minyak ini, cuman penyakitnya saja yang sudah terlalu parah dan ga cukup diobati dari luar.

Rasa panas yang membakar sudah terasa sejak pagi. Tapi saya sempetin mampir ke rumah temen buat mindahin foto kliennya dia dari hardisk ke komputernya. Mindahinnya cukup lama, makan waktu sampe sore karena hardisknya agak bermasalah. Selama mindahin foto itu saya beberapa kali ketiduran. Bukan karena ngantuk, tapi kecapean ngipasin muka pake tangan dan sekalian ingin mengalihkan rasa terbakar di wajah dengan cara tidur.

Saya sudah ga tahan lagi dengan panas terbakarnya. Dari luar tampak aman - aman aja, tapi dalamnya terasa membara. Seperti melihat wanita yang kita sayang dibuat tertawa oleh lelaki lain.

Kelar mindahin foto, saya segera ke dokter kulit. Saya baru tahu kalo dokter kulit itu jabatan lengkapnya adalah dokter kulit dan kelamin. Saya kira dokter kelamin itu jadi satu dengan dokter kandungan. Soalnya lokasi kandungan dan kelamin kan deketan. Lagian yang menyebabkan mengandung kan kelamin.

Untung muka saya sudah sangat amat menunjukkan bahwa yang mengalami kelainan pada diri saya adalah di muka. Soalnya kalo muka saya tampak biasa - biasa aja lalu ada kenalan yang melihat saya ke dokter ini, bisa - bisa yang dikira sakit bukan kulit, tapi 'tetangga-nya

Saya sempat mengamati orang - orang yang mengantri bersama saya. Ketika melihat orang yang kulitnya tampak gak ada masalah, saya langsung curiga. Orang ini pasti itunya yang bermasalah. *memandang curiga*


Saya adalah orang yang jarang pergi ke dokter. Separah - parahnya saya sakit, paling ngedatengin mantri panggilan ke rumah. Makanya ketika harus ke dokter kaya sekarang, saya gak ada bayangan sama sekali harus ngapain dam akan diapain.

Singkat cerita, sampailah saya di dokter kulit yang katanya bagus. Saya kesana sudah cukup malam. Sekitar jam 7. Ternyata dokternya belum dateng. Ibu kasir nyuruh saya langsung ke lantai dua nunggu sampai dokternya datang.

Saya dapat nomer antrian nomer 6 atau nomer 7 (lupa). Gak terlalu lama, dokter yang ditunggu - tunggu pun datang. Tiap tigas orang pasien dipanggil masuk ke ruangan. Sekian menit kemudian, sekitar sepuluh menit, para pasien sudah keluar. Cepet amat!

Dari balik pintu saya lihat pasien duduk menghadap dokter yang berbicara kepadanya sambil menulis di meja. Lalu petugas pun memanggil nomer saya beserta 2 pasien lain. Pasien sebelum saya diperiksa terlebih dahulu. Di dalam ruangan ada ruangan lagi. Saya menunggu di ruangan tempat dokter menulis tadi, dokter memeriksa pasien di ruangan lagi satu.

Setelah ngobrol sebentar, pasien dibawa ke sebuah bilik. Saya mendengar kata 'keramas'. Mungkin si pasien mau dikeramasi. Ini pasien atau mau nyalon??

Lalu si pasien diajak duduk di depan meja dokter. Dokter ngasi beberapa saran dan menuliskan resep. Setelah pasien bayar, dokter pun memanggil saya untuk masuk ke ruangan.

"You kenapa?" kata dokter ketika saya duduk di kursi yang disediakan di dalam ruangan. Juga ada ranjang medis disana. Ranjangnya tampak sudah tua.

Sudah lama ga ada yang merhatiin, sekalinya ditanya 'kenapa?' rasanya pengen langsung curhat tentang semua hal yang saya pendam selama ini. Soal cinta yang pupus ditengah jalan, soal kegelisahan ditinggal nikah teman - temen dan mantan, serta hidup yang sampe saat ini ga mapan - mapan.

Iya, saya orangnya emang gampang terpancing.

Lalu saya ingat ke tujuan awal saya kesini. Saya urungkan niat untuk curhat. "Fokus, Sukra.. Fokus.." kata saya ke diri sendiri dalam hati.

Lalu saya jelasin penyakit saya. Dokternya hebat. Meski sudah kakek - kakek, dia dengan mengamati saja sudah tau apa yang harus dipakai untuk mengobati penyakit saya. Kirain saya bakal dipegang - pegang dan diperiksa lebih seksama.

Saya pun diajak ke bilik sebelah. Dibilik itu ada wastafel. Saya sudah menduga akan dikeramasi juga, meski saya ga ngerti apa hubungan mengobati muka saya dengan kebersihan rambut.

"Ngapain you kesana?" tanya kakek dokter
"Saya ga keramas, dok?"
"Ngapain?! Sini-sini!"

Ternyata dugaan saya salah. Saya pun meninggalkan wastafel dan mendekati dokter.

"Buka celana you"

Ternyata saya mau disuntik! Tapi selow, saya dah biasa disuntik. Sudah teratur donor darah.


Setelah dikasi beberapa saran dan dikasi resep, saya nebus resepnya di kasir. Dikasi 3 jenis obat. Satu salep dan dua kapsul. Salah satu kapsulnya adalah antibiotik.

Saya menyesal baru datang ke dokter setelah sekian lama. Salep yang dikasi manjur bikin lukanya cepet kering dan mengelupas, dan obatnya langsung bikin panas di seluruh muka saya hilang. Hanya saja karena saya ke dokternya sudah cukup terlambat, bekas luka did aerah mata jadi kaya keriput. Kalo saya ke dokternya lebih awal, mungkin lukanya akan mengelupas tanpa membuat perubahan di kulit.

Dokternya sih bilang salepnya untuk mata. Tapi saya juga pakai di leher dan kaki yang terkena tomcat juga, dan tetap berefek. :D

Hanya saja sisa lukanya jadi meninggalkan noda hitam sekarang. Rencananya saya akan kesana lagi kalo sudah ada uang untuk minta obat menghilangkan bekas ini. Gara - gara bekas ini semua jadi terkejut dan merhatiin. Risih bet pokoknya. Semoga saja ga jadi luka permanen.


1 bukan komentar (biasa):

Nadia K. Putri said...

Hm, ada baiknya langsung ke dokter sih, daripada coba-coba dan akhirnya... ya sudahlah, sudah terlanjur :')

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI