Yang Katanya Lemari Pendingin Minuman


Kalian pernah ngurus surat-surat ke kantor camat, satatan cipil, atau instansi negeri lainnya? Meski beberapa tahun belakang ini pemerintah pusat dan daerah menyuarakan soal pelayanan terpadu satu pintu saja, yang semua bisa diurus hanya dengan pergi ke satu tempat, tapi gak semuanya berjalan seperti teori yang sering disampaikan.

Masih banyak hal - hal yang kalo ngurusnya harus pergi kesini dan kesitu.

Harus nyari ini - itu.

Harus bayar segini dan segitu.

Harus kenal si ini dan si itu.

Udah capek - capek ngurus, kelarnya lama banget. Pepatah ujian berlaku di birokrasi Indonesia: Siapa Jujur Dia Hancur. Kalo mau cepet, kita musti kenal orang dalem dan atau bayar pelicin. Memang gak semua kayak gitu, tapi gak sedikit juga pegawai pemerintah yang begitu. Pungli dan calo masih jadi bagian erat dari sistem birokrasi negara ini.

Gak cuma orang umum aja yang kalo mau ngurus sesuatu ngerasain ribetnya, saya sendiri yang bekerja di salah satu instansi negeri di pemprov Bali mengalami kendala yang sama. Keteraturan birokrasi harus dipatuhi, ketegasan administrasi harus dijalani.

Kalo di swasta atau kepanitiaan mahasiswa, kalo pengen beli ini - itu, semasih penggunaannya masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan, kalo mau beli ya beli aja. Ntar tinggal kasi notanya ke bendahara, uang kita bakal diganti. Nah kalo di pemerintah agak beda. Apapun barang yang mau dibeli, sekecil apapun itu, musti direncanain dengan detail setahun sebelumnya. Bahkan dua tahun sebelumnya! Kalau gak gitu, kita gak akan dikasi duit untuk belanja.

Apakah bisa dita nalangin dulu duitnya? Jawabannya: bisa! Asal di nota, atau di spesifikasi barangnya menunjukkan barang itu dibeli di tahun barang itu dianggarkan. Misal beli kulkas tahun 2010 pakai duit pribadi, tapi kulkas itu baru masuk anggaran tahun 2011, nanti di pelaporannya pemeriksa gak mau tahu kulkas yang dilaporin harus menunjukkan secara tertulis dibeli tahun 2011. Pinter-pinter dah lobi sama penjualnya.

Tapi ngelobi penjual itu gak gampang. Pasti ada duitnya. Makanya kalo ada barang yang lupa dimasukin ke anggaran, kalo gak mendesak banget, bakal didiemin dulu sampe tahun depan biar gak ribet urusannya.

Nulis anggaran pun ga bole salah. Disini hukum berbicara. Salah - salah bisa masuk penjara karena ini soal duit rakyat. Selain itu kesalahan dalam menganggarkan bisa berakibat barang yang dateng gak sesuai kebutuhan.

Suatu kali saya mesen lemari pendingin minuman untuk nyimpen sampel di lab. Kami nulis di Rencana Kerja dan Anggaran dengan nama Lemari Pendingin Penyimpan Sampel. Benda yang kami maksud kayak di bawah ini.


Setelah melalui proses yang panjang dari verifikasi di Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa, menetukan rekanan yang akan menyediakan, akhirnya barangnya dateng ke kantor. Rekanan gak bilang kalo barangnya mau dateng. Beberapa kali saya dan temen-temen emang lihat satu dus besar berdiri di depan lobi. Tapi terus kami cuekin karena ekspektasi kami kardus lemari pendinginnya gak sekecil itu. Sampai akhirnya bagian surat yang menyampaikan ke unit kami kalau benda kotak memanjang ke atas itu untuk kami. Disana perasaan saya mulai gak enak.

Wujud barang yang dateng ke kantor saya seperti ini:


Agak jauh ya.. -____-

Bener sih ada 3 pintu. TAPI GAK 3 MENURUN JUGA KELEUSSS!!!

Ini mah kulkas namanya!

Kata pejabat pengadaan barangnya sih ini gak melanggar ketentuan karena barang yang datang sesuai dengan spesifikasi barang yang diajukan ke pusat. Bisa untuk mendinginkan, ada pengaturan suhunya (meski yang kami maksud adalah pengaturan suhu yang detail, bukan yang cuma low-mid-high), dan pintunya ada 3.

Dimesinya pun sama, cuman kalo kami minta yang memanjang, bukan vertikal kayak gini. Tapi pemeriksa barang tidak dipermasalahkan hal ini.

Kami harus menggunakan KULKAS ini meski gak bakal cukup untuk semua sampel yang kami punya. Padahal kamu sudah ngasi foto barangnya ke rekanan, kirain dia ngerti. Tapi rekanan ngikutin yang spesifikasi yang tertulis, bukan yang di gambar. (Kami sendiri gak boleh nyantumin gambar secara resmi karena ditakutkan akan mengacu langsung pada merk tertentu). Kami sudah menulis cukup detail mengenai spesifikasi barangnya, tapi ternyata itu belum cukup untuk masuk ke pehamanan si rekanan.

Saya sih pengen ngembaliin barang ini dan minta rekanan ngasi barang yang bener. Tapi semua kembali ke kebijakan pimpinan. Kalo pimpinan bilang terima, ya apa boleh buat. Yang bertanggung jawab nanti juga dia. Hehe


3 bukan komentar (biasa):

Niki Setiawan said...

lah kok bisa beda gitu ya sama kulkasnya?

Ade Sofyan said...

wah banyak juga macam-macam kulkasnya

http://adeandroids.blogspot.co.id/

Heru 'Siuplug' said...

maka dari itu ane malas jadi PNS, biarpun mau bener, dari akar udah salah, dan parahnya, semua diam aja toh

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI