Televisi Orang Bisu


Gag di Bukit Jimbaran, gag di kampung sama aja. Gag bisa nonton tivi!
Kalau di Bukit Jimbaran, tempat salah satu kampus Unud berdiri, tempatku kuliah, memang gag ada tivi di Asrama. Aku gag bawa tivi kesana. Tivi cuma punya satu yaitu yang sekarang ada di rumah di kampung. Dan saat ke kampung, berharap bisa melepas rindu dengan tivi malah jadinya nyakit hati.
Televisi yang dibeli saat umurku masih 4 tahun, sekitar  tahun 1994 gitu. Saat aku belum sekolah. Dengan merk Samsung ukuran 14 inci. Termasuk barang mewah saat itu. Gag hitam putih lagi dan sudah memakai teknologi terbaru masa itu ,remote! Maklum jaman itu masih beken cara ganti chanell dengan muter tuningnya kayak nyari sinyal radio.
Jadi kebayang kan gimana keadaannya benda itu sekarang? Sudah saatnya dia pensiun dan ganti dengan yang baru. Apalagi listrik di kampung juga gag menentu tegangannya. Angin-anginan. Tapi sembari ngumpulin uwang, keluargaku harus puas dengan memaksimalkan tivi itu sampai uang untuk beli tivi baru udah ada atau minimal sebelum dia benar-benar gag bisa ke pake lagi. Yah anggep belajar menerima sesuatu dengan apa adanya.
Gerimis. Jadi kayak nonton semut gitu deh. Gag senua chanel dapet ditonton. Padahal Opera van java di TransTV katanya lucu banget.
-oOo-
Besok aku pulang ke kampung bapakku di Buleleng. Bertemu nenek dan kakekku serta keluarga besar bapakku semua. Seneng campur males.
Seneng karena akan bertemu kakek nenek yang dari minggu lalu memintaku pulang. Bergaul dan silaturahmi dengan orang di sana.
Males, karena harus naik motor menempuh jalan panjang. Sekitar 3 jam perjalanan dengan kecepatan 60 km/jam (aku sering lupa berapa jaraknya). Dan yang bikin tambah males lagi adalah harus menghadapi sepupu yang bila tiap hari raya dia pasti bikin onar di kampung. Bikin kakek nenekku stress.
Gag ada yang bisa nyalahin dia. Sepupuku tuli bisu. Ya. Keluargaku di Buleleng dominan tuli bisu. Dan karena penyakit itu jadi orang-orang maklum kenapa sampai dia ngamuk kayak gitu. Susah untuk mengajari dia. Dia juga gag disekolahkan. Dia tidak mengenal budi pekerti, agama, atau kewarganegaraan.
Tapi tetap aja itu bikin serem. Membahayakan dirinya dan orang lain.
Kalau dia marah, biasanya sehabis minum-minum di jalan bareng pemuda sana, banting-banting barang apapun bila ada saja yang tidak sesuai keinginannya. Sering berantem dengan adik-adiknya. Mukul apapun gag peduli itu benda apa dan siapa. Sebelum semua barang rusak, dia gag akan puas. Terakhir dia ngebelah motor Supra kakekku dengan gergaji mesin. Dan orang rumah hanya bisa menyalahkan pemuda yang ngajak dia mabuk-mabukan kayak gitu.
Sampai saat ini aku masih tahan. Lagipula untuk ngajak dialog, gimana caranya? Mungkin itu salah satu cara dia untuk mengungkapkan perasaannya. Dia gag bisa berteriak seperti orang normal. Gag bisa membentak. Gag pernah mendengar orang lain berkata apa sekalipun orang itu membicarakannya.
Dan sejelek-jeleknya dia, dia tetep saudaraku. Dan besok aku harus ke sana. Menghadapi semuanya. Bertemu kakek nenek, itu yang terpenting.

*) foto dicolong dari
http://4rdysama.files.wordpress.com/2009/12/no_tv__by_gnato.jpg 

2 bukan komentar (biasa):

Anonymous said...

haha.. aku juga punya barang jadul gitu. Tapi punyaku kulkas 1 pintu (yang udah manula) dengan freezer (bener ndak sih ejaan 'freezer'nya???) yang sering bikin rumah aku banjir gara2 sering banget bocor..
tapi huebat bin ajaibnya, barang itu mampu bertahan sampai sekarang biarpun udah uzur (25 taun untuk kulkas lumayan tua juga) dan biarpun udah banyak tambalannya dimana-mana. Rasanya sayang buat dibuang (sebenernya karena belum bisa beli yang baru), udah berjasa banget sih..

Tukang Colong said...

jangan lihat kondisinya, tapi lihat kenangan yang ada disana, dan sejarahnya, jadikan barang antik aja.

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI