Sial di Sembahyang Ke Besakih

Belum selesai aku melanjutkan episode Tirta Yatra, kini aku mau bercerita tentang acara sembahyangku kemarin.

Sial. Banyak banget hal yang gag penting yang seharusnya gag terjadi saat sembahyang ke Pura Besakih kemarin. Padahal kemarin adalah hari yang sangat baik untuk ke pura terbesar di Bali itu. Gag hanya lagi ada upacara besar, tapi juga bertepatan dengan Budha Kliwon ama Kajeng Kliwon. Kedua hari itu adalah hari yang dianggap sakral dan suci bagi umat Hindu (kalau mau tahu kenapa, cari aja sendiri ya..).

Rencana awal saya kumpul di kos Eka jam setengah enam kemudian berangkat bertiga bareng ama Aristana (atau Kodok) juga. Tapi jadwal keberangkatan ngaret sejam lebih gara-gara males mandi, males berangkat, belum beli canang (persembahan atau sesajen), bunga, terjebak di warung lalapan yang pelayanannya super lelet (saking leletnya,saya sampai ganti menu ke menu yang paling cepat dibuat).

Jam tujuh malam kami pun berangkat. Gara-gara gag konsen, saya salah jalur yang akhirnya membuat kami melalui jalan yang lebih jauh karena harus muter.

Semula kami berangkat dengan penuh percaya diri. Meski langit mendung, tapi gag mungkin hujan. Ternyata hujan! Parahnya yang bawa jas hujan cuma saya dan Kodok. Eka ninggalin jas hujan beserta bunga yang akan dipakai sembahyang di kos!


Penuh hati-hati melalui jalan yang gelap, licin, dan curam. Rasa hujan waktu itu aneh, bikin pedas mulut. Sumpah.

Di Besakih, kami kehilangan dua bungkus canang saat selesai sembahyang! Padahal udah ditaro di tempat yang rapi. Kami tetap berusaha berpikir positif kalau mungkin ada yang gag sengaja ngambil karena dikira punya orang yang ngambil itu. Ato ini karma untuk ulah kami mengejek pedagang disana dengan menirukan cara mereka jualan. Habisnya penjual dagang disana kalo jualan kayak orang malak (sambil menodongkan gook ke leher) dan gag tentu canang yang dijual halal plus bersih.

Kami gag berusaha mikirin itu lagi. Memaksimalkan canang sebungkus yang selamat aja. Dengan penuh kemelaratan canang, kami pun melalui semuanya.

Di Pedarman (pura leluhur masing-masing), kami saling tunggu. Saat kami menunggui Kodok yang kebingungan nyari pedarmannya. Ternyata dia satu pedarman denganku. Kami tahu itu setelah sekian jam dia mencari. (-_-!)

Jam setengah dua pagi semua ritual sembahyang pun selesai. Pulanglah kami ke Bukit Jimbaran. Waktu di pura aku dan Eka gag ngantuk, makanya kami langsung pulang aja. Di jalan kami berdua baru ngantuk. Saat itu aku nge-bonceng dia. Tanpa tersadar aku tertidur, dia pun terlelap, akhirnya dua pemuda mabuk ngantuk berada dalam satu motor! Ngantuk ini hilang saat di jalan turunan tajam menikung kami hampir menabrak mobil gara-gara tanpa sadar kami sudah ada di jalur yang salah. Motor Kami di jalur kanan!

Mata udah ngantuk, perut mules. Mata berat, perut pun berat. Sepanjang jalan berusaha nyari posisi enak di sadel biar "itu" (baca: tai ) yang sudah diujung gag keluar. Cukup keringet dingin aja yang keluar.

Untung aku tahu adanya sebuah sungai deket jalan. Brojol-lah aku disana.Sungainya gelap. Jadi ngeri..

Fiuh. Perut lega, mata pun menyala. Kami siap melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba turun hujan! Berangkat kehujanan, pulang pun kehujanan. Sayangnya mata ini tetep ngantuk meski kehujanan bawa motor. Bandel.



Derita belum berakhir sampai disana, kini Eka yang tertidur. Berulang kali kepalaku diseruduk dari belakang. Karenan gag konsen lagi, aku menabrak kubangan besar dan motor kami tertekan ke belakang, bahkan hampir jatuh. Eka pun terbangun karenannya.
Aku mutusin buat jalan pelan-pelan aja . Kami sampai dengan selamat.

Untung hari ini gag ada praktikum jadi aku bisa istirahat dengan tenang. Gag ada praktikum yang kayak kemarin. Wida nangis karena bukunya dicoret seseorang tapi gag ada yang ngaku. Jadi inget masa-masa SD. Kejadian yang serupa sering kali terjadi. :-)


*)gambar dicolong dari hotspotbali

11 bukan komentar (biasa):

deadyrizky said...

setelah kehujanan gak masuk angin kan, kang?

Irawan said...

waduh bahaya banget kalau naek motor sambil tiduran... tapi aku juga pernah ngalamin kejadian serupa pas pulang daring naek gunung...

tukang colong said...

deadrizky: untungnya gag..

Irawan: yah mau gimana lagi..udah kangen rumah. hehe

Munir Ardi said...

yang penting happy ending kan sahabat

Munir Ardi said...

dan akhirnya sampai dengan selamat

tukang colong said...

pak munir: iya pak. hehe

Adib from kompinter said...

Wala wala!!Mantab ni bahasanya seperti seorang sastrawan mantab ni!!Novel hehehe

richo said...

waduh bawa motor sambil ngantuk.... bahaya atuh....:)

tukang colong said...

adib: doain ya brow..hehe

richo: keadaan yang memaksa. :p

reeya said...

to be sing nganti2ang!

tukang colong said...

reeya: maaf..:(

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI