Asisten Bupati Hampir Berkelahi dengan calon Bupati ditonton Warga Kampus


Apa yang kalian pikirkan tentang tanggal kemarin? Dua agama besar merayakan wafatnya sosok penting dalam kepercayaan mereka. Wafatnya Yesus Kristus untuk Kristen dan wafatnya Nabi Khong Hu Cu untuk Khong Hu Cu. Kemarin juga dirayakan sebagai Jumat Agung. Benar-benar hari baik. Kapan sih jumat gag baik? Makanya saya lahir hari jumat (info yang gag penting).
Ngomongin masalah tanggal, dua hari lalu ada dialog publik di kampus saya. Diselenggarakan oleh BEM PM Universitas Udayana dengan tema “Dari Udayana Untuk Badung” yang mempertemukan kedua calon pasangan bupati dan wakil bupati Badung. Saat semua mahasiswa yang mayoritas anak semester dua hendak menonton sudah berkumpul di Auditorium Widya Sabha sekitar jam satu siang, ternyata salah satu calon yang saat itu juga menjabat sebagai bupati dan wakil bupati gag bisa hadir. Mereka diwakili asisten bupati. Tentu wakil yang lagi satu gag terima. Dia meminta klarifikasi dari pihak panitia. Terjadilah perdebatan antara presiden BEM dengan calon bupati. Lucu ya? Penonton pun gag jadi kecewa. Batal lihat debat antar calon tapi tetep aja lihat debat yang lain. Hehe.

Kata BEM, bupati emang dari awal gag mau dateng. Bila dia hadir dan menyampaikan visi dan misi berarti kampanye. Hal itu udah disampaein ke pihak BEM saat audiensi. Namun calon yang sudah datang tetap tidak terima karena di surat undangannya dinyatakan kalau hari ini dia akan debat. Lagian kalau tetap memaksakan debat juga gag bagus. Masa debat dengan asistennya? Pemikirannya kan pasti gag 100 persen sama.
Akhirnya salah satu pakar sosial yang kebetulan hadir disana menengahi dengan mengarahkan kegiatan menjadi seperti diskusi publik. Penonton nanya dan narasumber yang jawab. Acara pun diakhiri dengan pembagian sertifikat ke penonton.
Memang gag ada kegiatan yang berjalan 100% sesuai rencana. Presiden BEM yang sekarang, Adji, yang baru saja dilantik memang cukup berani. Belum lengkap semua kabinetnya terbentuk sudah membuat kegiatan. Tampak yang hadir saat kegiatan pun adalah hanya fungsionaris lama. Mungkin dilihat ada momen tepat yaitu sebulan lagi pilkada Badung sehingga dia berani untuk membuat kegiatan dialog.
Namun itu tidaklah efektif bila hasilnya berakhir seperti ini. Kadang hidup musti seperti ketapel. Saat semua maju, kita mundur sambil bersiap-siap. Bila saatnya tiba barulah melesat lebih cepat dengan yang lain dan sampai tepat di tujuan. Bikin kabinet dulu pelan-pelan, buat program yang matang,baru show off.
Panitianya sekarang dominan mahasiswa angkatan baru. Bagus sih buat nyari kader dan bibit masa depan. Namun  seperti gag ada bimbingan. Saat berita bupati gag bisa hadir mereka tetap memaksakan untuk membuat kegiatan. Seyogianya sebuah kepanitiaan harus mempunyai rencana cadangan bahkan rencana untuk hal yang paling buruk. Misalnya perubahan kegiatan menjadi diskusi atau tanya pendapat dan pandangan calon terhadap situasi sekarang jadi gag harus menyampaikan visi dan misi. Diberikan juga TOR kegiatan pada kedua calon agar kedua calon tahu jalan kegiatan kayak apa. Gag hanya surat. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman kaya sekarang ini. Semestinya panitia segera meralat kegiatan kesemua pihak bila memang terjadi perubahan. Panitia harus tanggap dan sigap. *berapi-api dengan mata nelotot dan tangan diacungkan ke udara*
Minimnya keberadaan angkatan atas dalam kepanitiaan yang notabene adalah orang yang lebih pengalaman bisa dimaklumi. Masih kerasnya pengaruh akademis oriented  memang menjadi momok di tiap organisasi kemahasiswaan sehingga jadi minim peminat. Sedangkan angkatan muda pastilah lebih mudah diajak, ya karena mereka masih baru.
 Tapi ini semua hanya pemikiran saya saja. Semua kan bebas berpendapat  sesuai pemikirannya yang berbeda-beda. Tulisan ini pun masih banyak kurangnya. Maklum masih belajar berpendapat.
Ngomongin calon bupati, semua pemimpin  selalu menjanjikan kesejahteraan rakyatnya. Tapi itu cuma dari aspek ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Masalah lingkungan jarang sekali diangkat. Kalau lingkungan rusak, rakyat kan gag jadi sejahtera.
Btw, saya janji backlink nih ama mas munir. dia bikin seperti pkuis menebak lagu. Kalau ada yang bisa jawab  akan dihadiahi backlink. karena saya gag tahu lagunya jadi saya saja yang ngasi hadiah ke bang munir. Ini dia hadiahnya: Backlink. semoga mas munir cepet bisa bikin award dan mengajari saya yang gag tahu juga. hehe

12 bukan komentar (biasa):

sauskecap said...

Wah, masa debat sama asistennya sendiri.... trus akhirnya gmn tuh acaranya

Tukang Colong said...

ya itu, akhirnya ada yang menengahi dan acara pun selesai dengan aman. hehe

d3n5 said...

betul sob, setiap calon ga bupati ga presiden, pasti janjinya muluk2. makasih komennya

sawali tuhusetya said...

terus gimana endingnya, mas? kok bisa2nya kaum elite daerah berbuat seperti anak TK, hehe ...

MasEDI Belajar Ngeblog said...

wah... diskusi berujung debat kusir... jangan ditiru... :D

Salam kenal dari kota Bengawan Solo the Spirit of Java

Tukang Colong said...

<3 pak sawali: ada yang menengahi, seorang ahli sosial gitu. acaranya jadi kayak diskusi publik.

<3 Mas edi: ookey..salam kenal y..

Seti@wan Dirgant@Ra said...

nanti kalau backlinknya udah banyak pasti PR bakalan naik juga.

Pesona Muslim said...

Memalukan.....

yayah said...

otak masih kayak TK mau mimpin, apa kata dunia...

munir ardi said...

kayak dagelang aja, gimana tuh kalau pemimpin begitu sifatnya

referensi blog said...

mas sebaiknya komentar make URL supaya dapat backlink, kalau make akun google nggak dapat dijamin deh

Tukang Colong said...

*seti@wan: amin..

*Pesona muslim: hihi. emang gag layak ditiru.

*yayah: dan inget sebagai pemimpin harus taan pajak. hehe

*munir: gag layak disebut pemimpin

*refernsi: oh gt ya? makasi ya infonya..

*all: saya akan berkunjung balik ke blog kalian, tunggu aja..
^-^

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI