Masuk Belenggu, Gag Bisa Keluar Lagi!


Waktu cepet banget berlalu. Gag siang gag malem. Tapi kalau malem terasa lebih cepat sih jalannya.
Saat berencana lembur. Baca 4(lima) jurnal untuk persiapan nyari kekurangan bahan paper (kalau gag dibaca entar gag tahu dimana kekurangan bahannya). Buat resume jurnal. Buat proposal untuk permohonan dana untuk bekal perjalanan ke Makasar (jadi pendamping peserta Olimpiade Kimia Nasional). Mata ini sudah meminta dengan manja agar lekas tidur. Emang paling enak di malam yang cepat ini untuk semakin mengangkrabkan diri dengan kasur. Ha ha
Sayang gag mungkin untuk istirahat sekarang. Besok pagi jam 7 bahan-bahan paper harus udah ku kasi ke Sauca (temen kelompokku). Kalau gag diselesein sekarang baca jurnalnya, gag bisa segera nyari bahan. Parahnya, besok aku juga gag libur! Pagi musti ke SMAN 1 Singaraja, audiensi dengan pihak sana tentang
pendelegasian mereka ke Olimpiade Kimia Nasional (OKI). Siang nyari bahan ngajar (sebelumnya harus baca lagi materi ngajarnya). Sorenya ngajar. Belum lagi esok hari. Tapi esok bicarakan esok. Sekarang fokus dengan apa yang ada di depan mata dulu. Hehe
Semua kerjaan. Gag cuma  tugas kampus maupun organisasi, tapi juga semua yang bila gag selesai akan membuat aku kepikiran dan terbeban. Itulah definisi istilah tugas bagiku. Begitu global bukan?. Makanya aku terkesan sibuk. Gag sibuk sih sebenernya. Tugas real itu sedikit. Tapi aku suka menyelesaikan tugas yang ingin dikerjakan juga selain yang harus diselesaikan.
Aku gag mau terbelenggu dengan semua tugas ini. Gag mau terikat sampai aku gag bebas. Memang semua ini harus diselesaikan. Demi keselamatanku juga (kok terkesan gawat yak?).
Tetap menyukai apa yang harus aku kerjakan. Agar terhindar dari kejenuhan. Agar bisa terus bertahan dan berjuang. Semua harus dikerjakan. Mulai dari yang ada di depan. Jangan kebanyakan rencana, strategi, atau asik memikirkannya saja.
Aku harus bebas dari semua yang kalau memang benar adalah sebuah belenggu. Aku ingin bebas! Harus. Lepas. Independen. Tapi juga gag boleh menghindar. Satu-satunya cara adalah dengan menghadapi semua ini. Selesaikan satu-satu. Atau sekaligus. Serius. Dan santai.
Bicara belenggu. Tadi siang saat di kampus. Aku asik ngenet di kelas biasa tempat aku kuliah, sambil menunggu SMS dari teman yang akan mengabarkan jika kuliah udah mulai. Aku gag peduli kelas itu sudah diisi oleh mahasiswa lain yang akan mengikuti kuliah yang lain juga. Toh, aku duluan di sini. Lagian lagi sedikit lagi. Bentar lagi aku keluar denngan perlahan (boros kata ‘lagi’).
Selesai dosen pengampu ngasi ceramah singkatnya, aku mendengar suara berisik di kelas sebelah. Gag mungkin itu mahasiswa lain karena hari ini hanya angkatanku aja yang ke kampus. Terdengar dari seberang sana dosen mata kuliahku membuka kuliahnya.
Anjrit! Aku gag dikasi tau kuliah udah mulai!!
Perasaan kesal menggelayuti saat aku sudah mengikuti kuliahku. Tertinggal beberapa catetan.
Di dalam ruang ini aku kesal. Marah pada teman yang gag ngasi tau kalau udah ada kuliah. Padahal tadi aku udah mintak tolong untuk dikabari. Dada ini terasa panas. Terpikir kenapa aku harus dengan mereka? Orang-orang yang hanya peduli pada gengnya saja. Gag ada inisiatif mau menolong teman yang gag terlalu akrab dengan mereka. Padahal sudah 2 tahun lebih bersama. Mungkin ini namanya kuliah. Individualis. Pekatnya persaingan. Yang penting cepet lulus dengan nilai gede, beres. Terserah orang lain mau kayak gimana.
Aku gag bisa kayak gitu. Aku gag bangga bisa berhasil dengan mengabaikan orang lain yang terang-terangan bisa ku bantu. Semasih itu sesuai aturan. Aku gag suka ber-geng. Kelompok kaku yang haus kontroversi. Para pencari sensasi. Budak gengsi. Yang membuat jadi gag sensitive dengan kondisi dan perasaan orang diluar kelompoknya. Atau yang gag mereka butuhkan.
Aku lebih senang dengan istilah kekeluargaan. Suatu perasaan senasib seperjuangan. Gag dibuat-buat. Tanpa paksaan. Tulus. Murni karena panggilan hati. Gag terikat. Gag harus selalu bersama namun bila diperlukan selalu siap datang membantu. Dan tetap membuat satu sama lain bebas kemana saja.
Persahabatan yang indah adalah saat aku kemana pun, aku bisa tersenyum dengan siapapun dan mendapat balasan yang sama,bahkan lebih. Saling menyapa saat bertemu dimanapun. Saling tegur. Itu gag cuma jadi terlihat keren karena terkesan beken tapi untuk itulah salah satu alasan kita diciptakan. Sayangnya sampai saat ini aku belum bisa mewujudkannya sepenuhnya.
Lanjut ke keadaanku di kelas, teman yang tadi, meminta maaf kepadaku.
“Aku memaafkanmu kawan. Dengan tulus. Cukup marahku ku tuang disini dan kuluapkan tadi. Sekarang gag ada kebencian lagi antara kita”.
 Dan kami pun semua satu angkatan bersenda gurau lagi. Makan kue bareng. Ngobrol bareng. Tertawa ceria. Bersama.

2 bukan komentar (biasa):

ALdO AKiRA said...

KeSibuKaN haRuS kaMu iMbaNgi deNgaN HoBby juGa yG MeNyeNaNgKaN HaTi..
MeNdeNgaRkaN MuSiK,
MeMbaCa aTau beRMaiN KoMpuTeR adaLaH saLah saTuNya..
aGaR seMua-Nya beRjaLan deNgaN baiK,
daN kaMu gaK gaMpaNg STReSs..
TeMaN juGa biSa meMbaNtU..
aKu puN siaP meMbaNtu..
taPi kaLo kiMia..
MAaF, :(
aKu jaGo-Nya MaKeUp bRothER..
:)
MaMpiRr yAaa ke BLoG aKu..
MatUR SuKsMe..
(^.^)v

sawali tuhusetya said...

nah, begitu dong, dengan temen sekelompok mesti akur, hehe .... konon kalau tugas apa pun dianggap sbg belenggu, jadi makin tambah berat. bagusnya tugas dianggap hiburan saja, hehe ...

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI