Yang Katanya Eksplorasi


Hampir dua bulan tidak ada TV di rumah saya. Puluhan episod Jodha Akbar terlewati. Puluhan episod ajang pencarian dangdut sudah tidak saya caci maki. Sekalinya dapet numpang nonton TV di kantor, lagi tayang pembuatan benda paling legendaris di dunia kuliner Asia dan Indonesia pada khususnya. Mangkok cap jago.

Mangkok putih berbahan dasar keramik bergambar ayam jago di bagian luarnya sudah jadi pattern yang gak bisa dilepaskan kalo lagi ngomongin kuliner Indonesia, terutama yang berkuah - kuah. Mangkok ini sering dipake kalo kita mau beli mie atau kuah. Sering juga dipakai istri melempari suaminya kalo lagi berantem.

Ketika saya nonton TV di kantor, sedang ditayangkan cara bikin mangkok cap jago. Ternyata bahan dasarnya adalah tanah! Tanah yang digunakan berasal dari Kalimantan. Pabrik yang sedang diliput memproduksi 50 ribu mangkok per hari. Tanah yang diekslpoitasi untuk mangkok ini pasti banyak banget!! Abis abis dah tuh tanah di Kalimantan. Bukit jadi dataran, dataran jadi lubang besar menganga menyisakan bopeng di wajah ibu pertiwi. Padahal tanah bukanlah sumber daya yang bisa diperbaharui. Kelak jika tanah sudah habis dikeruk, entah dimana lagi manusia akan tinggal?

Yang Katanya Ilmu Reiki


Ngantuk adalah perasaan yang biasa saya rasakan saat berkendara sepulang kerja. Tapi sakit kepala, jarang. Sekalinya datang, rasa itu mematikan. Biasanya akan berlanjut ke demam, sakit tenggorokan, pilek, syukurnya ga langsung mati.

Selama ini saya percaya kalau sakit kepala yang datang sehabis bawa motor dengan rute yang panjang adalah efek nahan kentut kantuk sepanjang jalan. Mata jadi pedas, rasa sakit pun mulai menyerang kepala. Saya tanggapi rasa sakit ini biasa saja. Bahkan saat tenggorokan mulai gak enak, saya masih paksakan makan air aren yang sudah cukup asam milik adik saya. Rasanya seperti dicekik dari dalam. "Diminumin air anget aja entar ilang", pikir saya.

Rupanya enggak, sakit saya makin parah. Ditambah selama seminggu ini dan sampai 3 hari ke depan saya harus bangun pagi demi memanfaatkan kuota internet pagi, bikin saya jadi kurang tidur. Gak enak badan tambah kurang tidur bukan pasangan yang ideal untuk dipertemukan. Selama ini saya menggunakan paket internet bulanan yang kuotanya dibagi antara pagi dan siang. Pagi dari jam 00 sampai 12 siang, sisanya masuk paket malam. 9,5 giga pagi hari, malemnya cuma 1,5 giga.

Saya lebih banyak punya waktu maen internet cuma siang pas kerjaan di kantor mulai lenggang atau pas istirahat makan siang atau pas pulang kantor sebelum mandi. Sedangkan paginya saya baru mandi jam 5an itupun langsung mandi dan siap - siap di kantor, sampe kantor langsung dikasi kerjaan. Otomatis sisa kuota pagi masih banyak sedangkan yang siangnya habis di hari ke 20, sisa lagi 10 hari sampai paket ini habis. Kalo beli paket lagi, kasian sisa kuota paginya masih banyak banget. Saya sampai memuter youtube nonstop dari rumah sampai kantor (kira - kira 1 jam) tiap hari tapi tetep aja gak habis - habis. Pengen ngabisin lewan laptop dengan pake wifi dari kuota ini, wifinya ga mau kebaca di laptop saya. Mau pakai laptop orang, di kantor ga ada yang bawa laptop pribadi, di kantor pun sudah ada internet.

Yang Katanya Duel Abad Ini


Sudah dua minggu berlalu setelah pertarungan yang katanya 'Duel Abad Ini' antara Pacman dan Mayweather. Pertarungan berlangsung seru. Pacman menghujani musuhnya dengan jab - jab mematikan. Lalu Messi melemparkan bola crossing dan akhirnya diselesaikan dengan manis oleh Marques dengan menyalip di tikungan terakhir. Sungguh pertandingan catur yang menegangkan!

Di akhir acara orang tua finalis yang tersenggol naik panggung lalu nangis.

Pertandingan yang dimenangkan oleh Mayweather ini menyisakan kontroversi karena secara kasat mata tampak Pacman lebih mendominasi pertandingan sedangkan The Money hanya berlari - lari di atas ring.



Yang Katanya Odalan Pura Besakih 2015


Setiap perayaan besar di pura Besakih, selalu diikuti dengan perayaan di pura Batur. Setelah sembahyang kepura pedharman bersama ibu tempo hari, saya diajak temen - temen sembahyang ke kedua pura itu.

Pura Batur terletak di desa Kalanganyar, Kintamani, Bangli. Dekat dengan danau Batur. Kami tiba disana sudah cukup malam. Hujan baru saja berhenti. Cuaca masih lembab. Tanah, bangunan, dan tanaman masih basah bekas air hujan. Suhu ketika itu membuat temen - temen cewek menggigil. Saya yang berniat baik ngasi jaket malah  kena gampar. Padahal saya cuma mau ngasi jaket dan bonus pelukat hangat. Saya mah gitu orangnya.

Mentok. Mobil - mobil gak gerak sepanjang jalan. Kendaraan mengular menunggu giliran bisa jalan menuju pura. Kalo kayak gini ceritanya sampe lebaran kuda makan besi juga ga bakal jalan. Lelah nunggu di dalem mobil tapi mobil gak jalan - jalan, kami putuskan untuk jalan kaki menuju pura. Di kejauhan kami lihat laser menembak awan. Kami duga itu pasti berasal dari lokasi puranya. Dilihat dari sumber lasernya sih, tinggal satu belokan lagi sampe.

Kami jalan kaki bersama - sama rombongan lain yang juga memutuskan hal yang sama. Jalannya menanjak. Yang cewe - cewe tampak mulai kelelahan. Wajar, karena mereka juga harus membawa dua gunung dan satu gua bersamanya. Sekali lagi saya tawarin bantuan, kena gampar lagi. Padahal kan saya mau ngebantu gendong mereka biar gak capek. Tapi gendongnya dari depan. :3

Yang Katanya Odalan Pulasari


Selain musim orang nikahan, bulan April lalu juga adalah hari raya besar di banyak pura di Bali terutama di pura terbesar yang ada di Bali, Pura Besakih.

Tapi sebelum sembahyang ke Besakih, saya dan Ibu sembahyang ke pedharman pusat kami. Umat Hindu terbagi atas banyak hal. Mulai dari kasta, silsilah keluarga secara dinas, pedharman, dan dadia. Pedharman sendiri mirip dengan sistem clan yang orang - orang Jepang pakai. Atau mirip dengan orang Batak yang ada Manurung, Rajagukguk, dan lain-lain. Pedharman di Bali juga memiliki pura pusatnya. Dan Pedharman saya ada di desa Pulasari, kecamatan Tembuku, kabupaten Bangli.

Saya adalah bagian dari dadia Sri Aji Kresna Kepakisan. Dan pedharman saya adalah Dalem Tarukan. Dalem Tarukan sendiri adalah anak dari Sri Aji Kresna Kepakisan. Dadia paling besar, paling tua, dan paling awal ada di Bali adalah dadia Pasek. Dadia Pasek dibagi - bagi lagi menjadi bagian - bagian yang lebih kecil. Meskipun warga Bali terbagi menjadi banyak 'kelas', tapi persatuan dan persaudaraan tetap kami jaga, dan secara nasional kami tetap bagian dari NKRI.